KELIMPAHAN

Renungan minggu 1_Februari 2018

 

 

KELIMPAHAN

Hujan yang melimpah Engkau siramkan, ya Allah; Engkau memulihkan tanah milik-Mu yang gersang, (Maz 68:10)

 

Hari Pertama

PEMULIHAN SEGALA SESUATU ( Kis 3:15-21 )

Enam hari penciptaan adalah sangat baik adanya. Tuhan menciptakan dengan cinta, hasilnya pun sangat indah. Semua sesuai dengan desain agungnya Tuhan. Sayang sekali, dosa merusak segalanya. Manusia pertama memilih untuk berpaling dari Allah dan berpihak pada Iblis. Dengan berat hati Allah mengutuk manusia, pun tanah dimana manusia berpijak juga dikutuk (Kej 3:17). Sejak saat itu, tanah tidak lagi berpihak pada manusia yang mendapatkan kewenangan dari Tuhan untuk mengolahnya.

Akan tetapi, Tuhan berinisiatif untuk memulihkan semuanya: dikembalikan ke Grand Design yang Allah rancangkan sejak semula. Allah sendirilah yang memulihkan semuanya melalui Yesus Kristus. Pertama, Tuhan Yesus memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Yesus mengambil posisi sebagai Korban bagi seluruh dosa umat manusia. Yesus menjadi kutuk supaya kita yang percaya bebas dari kutuk itu. Demikian pula, darah Kristus yang membasahi tanah menghapus kutuk atas tanah tersebut, sehingga tanah kembali menjadi berkat bagi manusia.

Bagian kita adalah mengolah dan menjaga tanah tersebut sehingga menjadi berkat bagi umat manusia. Kalaupun ada tanah yang gersang, itu bukan berarti Tuhan tidak mengindahkannya, melainkan supaya kita yang percaya berkata berkat bagi tanah itu sehingga tanah kembali membuahkan hasil yang melimpah.

 

Hari Kedua

TINGGAL DI PADANG GURUN ( Maz 23 )

Kekeringan adalah kondisi dimana tanah tidak lagi cukup membuahkan hasil yang dibutuhkan manusia. Beberapa kali umat Israel harus pergi meninggalkan tanahnya karena kekeringan. Ya, itu terjadi sebelum Kristus datang dengan karya-Nya yang memulihkan semuanya. Sekarang kekeringan dapat kita transformasi menjadi kelimpahan, tentunya dengan kuasa nama Yesus. Kekeringan bukan hanya terjadi pada tanah, melainkan seluruh aspek kehidupan kita: komunikasi keluarga, finansial, bisnis, pekerjaan, suasana hati, kondisi psikis, kondisi fisik dll.

Terkadang Tuhan mengizinkan kita berada di padang gurun kita masing-masing. Winston Churchill, mantan Perdana Menteri Inggris, berkata: “If you walk through hell, keep walking”. Maksudnya adalah ketika kita berjalan di padang gurun yang panas, teruslah berjalan, jangan berhenti atau berbalik. Jika kita berhenti berjalan, pastilah kaki terasa panas. Jika kita berbalik, toh kita harus kembali melaluinya. Tapi jika melanjutkan berjalan, kita akan semakin mendekati tujuan akhir. Siapa tahu hanya dengan 5 langkah saja kita sudah sampai ke tanah yang subur.

Jika saudara sedang berada di padang gurun, tetaplah melangkah dengan mata memandang pada Kristus. Tuhan akan memberikan kekuatan dan kenyamanan sehingga kita bisa melaluinya dengan sukacita dan pemulihan ada di depan mata.

 

Hari Ketiga

BERBUAH DI TENGAH KEKERINGAN ( Kej 26:12-22 )

Kesaksian Pastor Daniel, Penatua GKKD Pekanbaru, meneguhkan kita bagaimana Tuhan sanggup mengubahkan kekeringan menjadi kelimpahan. Melalui pelayanannya, Water Mission, beliau memberikan bantuan pengolahan tanah sehingga menghasilkan air yang melimpah-limpah. Daerah di NTT yang sudah ratusan tahun kekeringan dan kesulitan air, sekarang tanahnya membualkan air yang berlimpah. Rakyat bersukacita dan terberkati. Itu membuktikan bahwa kekeringan bukan takdir, melainkan kekeringan dapat diubah menjadi kelimpahan.

Ishak berada di tanah Gerar yang sedang dilanda kekeringan hebat. Dia juga turut merasakan kekeringan bersama-sama dengan seluruh penduduk. Akan tetapi, Ishak tetap menabur atau melakukan hal-hal yang seharusnya dia lakukan seperti biasanya. Mungkin kita akan mengatakan bahwa itu pekerjaan sia-sia: menabur pada saat musim kering. Tidak demikian dengan anak-anak Tuhan yang percaya kepada-Nya. Saya percaya bahwa Ishak menabur karena Tuhan yang meminta dia melakukan itu. Dan kesia-siaan itu Tuhan ubah menjadi mujizat. Ishak menuai 100 kali lipat pada tahun yang sama. Itu menjadi kesaksian mencengangkan bagi seluruh penduduk daerah itu.

Mungkin saudara sedang berada di posisi yang sama: secara logika sia-sia menabur pada saat sulit semacam ini. Tapi percayalah, kondisi sulit tidak menghalangi kuasa Tuhan bekerja. Tidak ada yang mustahil bagi kita yang percaya. Lakukanlah apa yang Tuhan minta kita lakukan, meski tidak sesuai dengan logika kita, karena janji Tuhan di atas semua yang dapat kita pikirkan.

 

Hari Keempat

HUJAN AWAL DAN HUJAN AKHIR (Ulangan 11:8-15 )

Hujan menjadi penanda musim tabur dan musim tuai. Hujan awal menunjukkan bahwa itulah saat menabur, dan setelah masa tanam turunlah hujan akhir yang menunjukkan saat menuai. Hujan adalah hal yang langka di tanah Israel, beda dengan Indonesia yang sepanjang tahun hujan. Hujan di Israel melambangkan masa tabur-tuai secara rohani. Siklus tabur-tuai menjadi gambaran kehidupan kita. Kita akan menuai apa yang kita tabur. Jika kita tidak menabur, maka kita juga tidak akan menuai.

Pada masa percepatan ini, Tuhan menurunkan hujan awal dan hujan akhir bersama-sama. Ini artinya kita akan mengalami percepatan: percepatan untuk menuai apa yang sudah kita tabur. Seperti Ishak yang menuai 100 kali lipat pada tahun yang sama menunjukkan bahwa terjadi mujizat supranatural. Kalau dulu orang harus menunggu sekian waktu lamanya untuk menuai, maka sekarang kita akan menuai apa yang kita tabur dalam sekejap, asalkan kita terus berharap dan taat kepada Tuhan.

Masalahnya adalah momentum ini mungkin tidak selamanya. Maksudnya jika kita lengah dan tidak memanfaatkan momentum ilahi ini, mungkin kita akan kehilangan kesempatan untuk menerima hujan awal dan hujan akhir sekaligus. Mari saudaraku, manfaatkan masa mujizat ini dengan ketaatan kepada Tuhan.

 

Hari Kelima

PUJIAN PENYEMBAHAN MEMPERSIAPKAN KELIMPAHAN (Markus 4:3-8 )

Jika kita menabur benih secara sembarangan di atas tanah yang belum digarap atau disiapkan – sebagaimana Firman Tuhan sampaikan dalam perumpamaan tentang benih – maka jangan kaget jika benih itu akan hilang dicuri burung atau terbawa banjir. Seorang petani akan menyiapkan tanah terlebih dahulu sebelum menabur supaya benih yang jatuh tumbuh dengan subur. Tuhan siap membuka tingkap-tingkap langit untuk mencurahkan hujan berkat dan kelimpahan atas semua anak-anak-Nya. Akan tetapi tanah yang belum digarap dengan baik, meskipun menerima hujan yang sama, tidak akan menyerap air itu sebanyak-banyaknya dan akhirnya benih tidak dapat tumbuh dengan sempurna.

Demikian pula dengan tanah hati kita yang harus disiapkan terlebih dahulu untuk menerima hujan kelimpahan. Cara paling efektif untuk menyiapkan tanah hati kita adalah dengan memuji dan menyembah. Pada saat menyembah, hati kita terkoneksi dengan hati Tuhan sehingga hadirat Tuhan mengalir masuk ke dalam hati kita. Ketika Tuhan hadir, jelas kuasa lain akan menyingkir. Semua kuman, bakteri, hama yang ada di hati kita akan menyingkir. Dikuduskan untuk menerima berkat Tuhan. Maka ketika kelimpahan dicurahkan, hati kita sudah dapat menerimanya dengan tulus dan tanpa motivasi kepentingan diri sendiri.

Mari saudaraku, awali hari ini dengan memuji dan menyembah Tuhan, lalu bersiaplah untuk menerima kelimpahan berkat dari Tuhan.

 

Hari Keenam

FIRMAN TUHAN MENCIPTAKAN KELIMPAHAN ( Kejadian 27:27-29 )

Tuhan menciptakan alam semesta dengan berfirman. Firman-Nya berkuasa dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Ketika Ishak memberkati Yakub (Israel), dia berkata “ …Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah…” (Kej 27:28). Sepanjang hidup Yakub, janji Tuhan akan kelimpahan tergenapi dalam hidup Yakub. Kita adalah Israel rohani, berarti janji Tuhan yang sama akan kita peroleh. Firman Tuhanlah yang menciptakan kelimpahan dalam hidup kita.

Janji itu kita terima pada hari ini. Mari kita ucapkan Firman Tuhan itu dengan penuh iman, gantikan kata-kata ‘mu’ dengan ‘aku’, yaitu: Allah akan memberikan kepada aku embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah. Maka bangkitlah dan lakukanlah tindakan iman bahwa apa saja yang kita kerjakan akan berhasil dan diberkati Tuhan.

Betapa banyak janji-Nya yang Tuhan nyatakan di dalam Alkitab. Mari kita terus baca Alkitab dan ambil semua janji Tuhan yang Ia berikan melalui firman-Nya. Kelimpahan dan umur panjang menjadi bagian hidup kita. Amin.

 

Hari Ketujuh

KETAATAN MEMPERTAHANKAN KELIMPAHAN ( Mal 3:8-12 )

Ada orang bilang harta yang diperoleh dengan mudah akan mudah hilang atau habis. Jika kekayaan itu kita peroleh dengan cara instan memang terkadang cepat habis. Ada yang mengumpamakan seperti botol atau bejana yang bocor: diisi terus tapi habis terus. Banyak yang bingung bagaimana mempertahankan kelimpahan dan berkat yang Tuhan curahkan. Jika kita sudah menyiapkan hati kita untuk menerima berkat Tuhan melalui pujian dan penyembahan, lalu kita mengucapkan Firman Tuhan untuk menciptakan kelimpahan itu, maka selanjutnya adalah mempertahankannya.

Tidak ada cara lain yang Tuhan ajarkan untuk mempertahankan berkat kelimpahan dari Tuhan kecuali TAAT. Ketaatan mempertahankan berkat tersebut sehingga apa yang kita terima tidak akan cepat hilang. Janda di Sarfat juga menerima itu, yaitu ketika dia taat melakukan apa yang hamba Tuhan perintahkan. Maka minyak di bejananya tidak ada habis-habisnya, meskipun terus dipakai.

Kita juga bisa mempertahankan berkat itu dengan taat melakukan semua yang Tuhan perintahkan melalui firman-Nya. Maka kita akan senantiasa hidup dalam berkat dan memberkati orang lain. Haleluya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2018/04/23/kelimpahan">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram
SHARE