Mendirikan RumahNya

Mendirikan RumahNya

2 Samuel 7:13 (TB)  Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya.

Tuhan, di dalam perianjian lama hadir melalui kehadiran tabut perjanjian yang ditaruh di tempat tertentu. Seperti di kemah atau gedung tertentu di bukit Gibeon, bukut Sion dan bukit Moria. Dalam perjanjian baru Tuhan menyatakan kehadiranNya di dalam dan di antara umat pilihanNya. Tuhan ingin agar umatNya terlibat membangun rumahNya di jaman ini. Yaitu agar setiap umatNya,setiap komunitas senantiasa menjadikan Yesus sebagai Raja, agar terus bertumbuh dalam kedewasaan seperti Kristus dan berfungsi secara maksimal satu dengan yg lain sesuai dengan panggilanNya. Didalam rumahNya, tidak boleh ada yang jadi penonton, tidak boleh berjalan semaunya, tidak boleh ada yg ‘stagnan’ dalam pertumbuhannya.

Saudaraku,bagaimana dengan hidupmu terhadap rumahNya? Mari semua, miliki hati yang mau tunduk, haus untuk bertumbuh dan memiliki kerinduan untuk berkorban bagi Rumah kediamanNya.

 

Mendirikan rumahNya – Sebuah kerinduan

2 Samuel 7:1-2

Kerinduan dan cintanya kepada Tuhan Allahnya, membuat Daud merasa tidak pantas jika dia hidup dalam istana yang megah sedangkan Allahnya hanya diam dalam sebuah kemah. Membangun rumahNya merupakan kerinduan dalam hati Daud yang terdalam. Daud tahu, Tuhan akan hadir dan menyatakan kemuliaanNya dalam rumahNya. Membangun rumahNya bukan hanya sebuah penghormatan kepada Allah, tapi jauh lebih daripada itu, yaitu menunjukan eksistensi Allah dalam kehidupan umatNya. Menyatakan kepada dunia bahwa Allah di pihak kita dan kita hidup dalam ketetapan-ketetapanNya. “…Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda…”. Sungguh sebuah kerinduan yang amat dalam yang dimilki oleh Daud, hambaNya.

Renungkanlah: Seberapakah kerinduan saudara untuk membangun rumahNya?

 

Membangun rumahNya — Memberi diri

1 pet 2:5

Menyadari bahwa setiap kita adalah batu yang akan dipakai dalam pembangunan rumahNya sangatlah penting. RumahNya bukan dibangun dari batu-batu yang mati, disusun menjadi sebuah gedung, tapi dari batu-batu hidup yang disusun menjadi sebuah tubuh yang hidup. “…Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup…” kata “biarlah” menunjukan kepada sebuah pilihan dan keputusan untuk kita merelakan dipergunakan atau tidak? Karena itu, diperlukan kerelaan dalam membangun rumahNya. Masing-masing orang harus memberi diri untuk dibentuk dan diajar, supaya rumahNya terbangun seperti yang Dia kehendaki. Hal sederhana tapi terpenting yang bisa dilakukan oleh masing-masing pribadi dalam pembangunan rumahNya adalah dengan memberi diri siap dibentuk, diajar dan dilatih.

Renungkanlah: seberapa saudara sudah menjadi pribadi yang siap dibentuk, diajar dan dilatih untuk membangun rumahNya?

 

Membangun rumahNya — Prioritas Utama

Hag 1:7-9

Pembangunan rumah Tuhan terhenti hampir 16 tahun pasca bangsa Israel keluar dari Babel dan kembali ke Yerusalem. Terhenti karena tekanan dari orang-orang samaria dan dengan kekerasan mereka dipaksa berhenti membangun rumah Tuhan. Setelah berjalannya waktu, bahkan hampir 16 tahun, tidak ada orang yang kembali merindukan pembangunan rumah Tuhan, semua orang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. ”… Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri…” Karena itu, Tuhan mau untuk kita kembali fokus membangun rumahNya. “…Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN…” Membangun rumahNya harus menjadi prioritas utama dalam hidup kita. Mungkin kita punya alasan yang kuat (tekanan ekonomi, anak, study, dll), sehingga kita berkata, ini belum waktunya untuk terlibat membangun rumahNya, tetapi Firman Tuhan katakan, “…perhatikanlah keadaanmu! Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu..”. Tuhan mau untuk kita serius dalam membangun rumahNya!

Renungkanlah: Sudahkah membangun rumahNya menjadi prioritas dalam hidup saudara?

 

Kristus sebagai Pusat

Ef 1:9-11

Dalam membangun rumahNya, kita harus membangun persis atau tepat seperti yang Dia kehendaki. Karena yang kita bangun adalah rumahNya, bukan rumah kita. Karena itu Kristus harus menjadi pusat dalam membangun rumahNya! Dia adalah pusat baik di bumi maupun di sorga, “…Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi…” Karena itu, bagaimana kita mengetahui kehendakNya jika Dia tidak menjadi yang utama dalam hidup kita? Selama Kristus menjadi pusat dalam kehidupan kita, maka pembangunan rumahNya tidak akan pernah terkontaminasi oleh ambisi, kepentingan pribadi atau keinginan duniawi lainnya. Selama Kristus menjadi pusat, bahkan ketika gedung gereja semakin besar, nama gereja semakin terkenal, jumlah jemaat semakin bertambah, tidak akan mempengaruhi kehidupan roh yang menyala-nyala dalam setiap umatNya. Nama Tuhan dipermuliakan dan diagungkan dari rumahNya, karena fokus kita bukan kepada apa yang terlihat oleh manusia, tapi kepada apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidup kita. Karena itu sekali lagi, pastikanlah Kristus menjadi pusat dalam hidupmu dan dalam membangun rumahNya!

 

Tantangan membangun rumahNya

Nehemia 4:1-20

Kisah Nehemia memberi gambaran kepada kita, tantangan yang dihadapi ketika kita membangun rumahNya. Mungkin akan ada kondisi atau situasi yang sulit, orang-orang yang tidak senang, dll, ketika kita memutuskan untuk tinggal dalam rumahNya dan membangun rumahNya. Kebergantungan Nehemia kepada Tuhan menjadi kunci untuk mengalahkan setiap tantangan tersebut. Kebergantungan Nehemia kepada Tuhan terlihat dalam doa-doa yang dinaikkan kepada Tuhan, yang disertai dengan langkah iman atau tindakan yang tepat seperti yang Tuhan mau. “…Orang-orang yang memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata…”. Minimal ada 2 hal yang Nehemia lakukan untuk mengalahkan setiap tekanan yang ada:

  1. Teruslah bekerja

Seberapa pun tekanan yang dihadapi, tetap fokus dan terus bekerja, meningkatkan dan mengembangkan keterampilan sesuai talenta yang Tuhan berikan untuk kerajaanNya.

  1. Memegang senjata (Hidup dalam Firman)

Firmanlah yang menjadi senjata kita, membacanya, merenungkannya dan melaklukannya. Inilah yang menjadi sumber kekuatan kita selalu.

Tantangan adalah latihan bagi manusia rohani kita untuk terus semakin kuat dalam Tuhan. jangan pernah kalah dan menyerah dengan tantangan, teruslah membangun rumahNya!

Renungkanlah: Tantangan terberat apakah yang membuat saudara tidak terlibat dan tertanam dalam rumahNya?

 

 

Rumah Tuhan — Tujuan akhir bangsa-bangsa

Yes 2:2-3

“…segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya…”. RumahNya lah yang dicari oleh bangsa-bangsa,mereka merindukan rumahNya, karena mereka tahu, hanya dalam rumahNya ada kebenaran. Setiap umat Tuhan harus menyadari, bahwa rumah Tuhan, yang menjadi tempat kehadiran Tuhan, itu adalah tujuan akhir dari pencarian bangsa-bangsa didunia ini. Mereka mencari rumahNya, ya bangsa-bangsa mencari rumahNya! Ketika Tuhan melawat sekolah-sekolah, kampus-kampus, kantor-kantor, keluarga-keluarga, pulau-pulau, maka yang mereka akan kejar dan cari adalah rumahNya. Karena itu, mari saudara, sebagai umat Tuhan, terlibatlah dalam pembangunan rumahNya, dimulai dari hidup kita pribadi masing-masing  yang terus diselaraskan dengan Firman, dari pribadi-pribadi yang demikian kita berkumpul bersama-sama membangun rumahNya, karena kita dalah baitNya. Mari saudara kita siapkan rumah untuk tuaian, karena ini adalah tahun tuaian. Amin!

Mendirikan RumahNya

 

2 Samuel 7:13 (TB)  Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya.

Tuhan, di dalam perianjian lama hadir melalui kehadiran tabut perjanjian yang ditaruh di tempat tertentu. Seperti di kemah atau gedung tertentu di bukit Gibeon, bukut Sion dan bukit Moria. Dalam perjanjian baru Tuhan menyatakan kehadiranNya di dalam dan di antara umat pilihanNya. Tuhan ingin agar umatNya terlibat membangun rumahNya di jaman ini. Yaitu agar setiap umatNya,setiap komunitas senantiasa menjadikan Yesus sebagai Raja, agar terus bertumbuh dalam kedewasaan seperti Kristus dan berfungsi secara maksimal satu dengan yg lain sesuai dengan panggilanNya. Didalam rumahNya, tidak boleh ada yang jadi penonton, tidak boleh berjalan semaunya, tidak boleh ada yg ‘stagnan’ dalam pertumbuhannya.

Saudaraku,bagaimana dengan hidupmu terhadap rumahNya? Mari semua, miliki hati yang mau tunduk, haus untuk bertumbuh dan memiliki kerinduan untuk berkorban bagi Rumah kediamanNya.

 

Mendirikan rumahNya – Sebuah kerinduan

2 Samuel 7:1-2

Kerinduan dan cintanya kepada Tuhan Allahnya, membuat Daud merasa tidak pantas jika dia hidup dalam istana yang megah sedangkan Allahnya hanya diam dalam sebuah kemah. Membangun rumahNya merupakan kerinduan dalam hati Daud yang terdalam. Daud tahu, Tuhan akan hadir dan menyatakan kemuliaanNya dalam rumahNya. Membangun rumahNya bukan hanya sebuah penghormatan kepada Allah, tapi jauh lebih daripada itu, yaitu menunjukan eksistensi Allah dalam kehidupan umatNya. Menyatakan kepada dunia bahwa Allah di pihak kita dan kita hidup dalam ketetapan-ketetapanNya. “…Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda…”. Sungguh sebuah kerinduan yang amat dalam yang dimilki oleh Daud, hambaNya.

Renungkanlah: Seberapakah kerinduan saudara untuk membangun rumahNya?

 

Membangun rumahNya — Memberi diri

1 pet 2:5

Menyadari bahwa setiap kita adalah batu yang akan dipakai dalam pembangunan rumahNya sangatlah penting. RumahNya bukan dibangun dari batu-batu yang mati, disusun menjadi sebuah gedung, tapi dari batu-batu hidup yang disusun menjadi sebuah tubuh yang hidup. “…Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup…” kata “biarlah” menunjukan kepada sebuah pilihan dan keputusan untuk kita merelakan dipergunakan atau tidak? Karena itu, diperlukan kerelaan dalam membangun rumahNya. Masing-masing orang harus memberi diri untuk dibentuk dan diajar, supaya rumahNya terbangun seperti yang Dia kehendaki. Hal sederhana tapi terpenting yang bisa dilakukan oleh masing-masing pribadi dalam pembangunan rumahNya adalah dengan memberi diri siap dibentuk, diajar dan dilatih.

Renungkanlah: seberapa saudara sudah menjadi pribadi yang siap dibentuk, diajar dan dilatih untuk membangun rumahNya?

 

Membangun rumahNya — Prioritas Utama

Hag 1:7-9

Pembangunan rumah Tuhan terhenti hampir 16 tahun pasca bangsa Israel keluar dari Babel dan kembali ke Yerusalem. Terhenti karena tekanan dari orang-orang samaria dan dengan kekerasan mereka dipaksa berhenti membangun rumah Tuhan. Setelah berjalannya waktu, bahkan hampir 16 tahun, tidak ada orang yang kembali merindukan pembangunan rumah Tuhan, semua orang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. ”… Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri…” Karena itu, Tuhan mau untuk kita kembali fokus membangun rumahNya. “…Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN…” Membangun rumahNya harus menjadi prioritas utama dalam hidup kita. Mungkin kita punya alasan yang kuat (tekanan ekonomi, anak, study, dll), sehingga kita berkata, ini belum waktunya untuk terlibat membangun rumahNya, tetapi Firman Tuhan katakan, “…perhatikanlah keadaanmu! Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu..”. Tuhan mau untuk kita serius dalam membangun rumahNya!

Renungkanlah: Sudahkah membangun rumahNya menjadi prioritas dalam hidup saudara?

 

Kristus sebagai Pusat

Ef 1:9-11

Dalam membangun rumahNya, kita harus membangun persis atau tepat seperti yang Dia kehendaki. Karena yang kita bangun adalah rumahNya, bukan rumah kita. Karena itu Kristus harus menjadi pusat dalam membangun rumahNya! Dia adalah pusat baik di bumi maupun di sorga, “…Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi…” Karena itu, bagaimana kita mengetahui kehendakNya jika Dia tidak menjadi yang utama dalam hidup kita? Selama Kristus menjadi pusat dalam kehidupan kita, maka pembangunan rumahNya tidak akan pernah terkontaminasi oleh ambisi, kepentingan pribadi atau keinginan duniawi lainnya. Selama Kristus menjadi pusat, bahkan ketika gedung gereja semakin besar, nama gereja semakin terkenal, jumlah jemaat semakin bertambah, tidak akan mempengaruhi kehidupan roh yang menyala-nyala dalam setiap umatNya. Nama Tuhan dipermuliakan dan diagungkan dari rumahNya, karena fokus kita bukan kepada apa yang terlihat oleh manusia, tapi kepada apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidup kita. Karena itu sekali lagi, pastikanlah Kristus menjadi pusat dalam hidupmu dan dalam membangun rumahNya!

 

Tantangan membangun rumahNya

Nehemia 4:1-20

Kisah Nehemia memberi gambaran kepada kita, tantangan yang dihadapi ketika kita membangun rumahNya. Mungkin akan ada kondisi atau situasi yang sulit, orang-orang yang tidak senang, dll, ketika kita memutuskan untuk tinggal dalam rumahNya dan membangun rumahNya. Kebergantungan Nehemia kepada Tuhan menjadi kunci untuk mengalahkan setiap tantangan tersebut. Kebergantungan Nehemia kepada Tuhan terlihat dalam doa-doa yang dinaikkan kepada Tuhan, yang disertai dengan langkah iman atau tindakan yang tepat seperti yang Tuhan mau. “…Orang-orang yang memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata…”. Minimal ada 2 hal yang Nehemia lakukan untuk mengalahkan setiap tekanan yang ada:

  1. Teruslah bekerja

Seberapa pun tekanan yang dihadapi, tetap fokus dan terus bekerja, meningkatkan dan mengembangkan keterampilan sesuai talenta yang Tuhan berikan untuk kerajaanNya.

  1. Memegang senjata (Hidup dalam Firman)

Firmanlah yang menjadi senjata kita, membacanya, merenungkannya dan melaklukannya. Inilah yang menjadi sumber kekuatan kita selalu.

Tantangan adalah latihan bagi manusia rohani kita untuk terus semakin kuat dalam Tuhan. jangan pernah kalah dan menyerah dengan tantangan, teruslah membangun rumahNya!

Renungkanlah: Tantangan terberat apakah yang membuat saudara tidak terlibat dan tertanam dalam rumahNya?

 

 

Rumah Tuhan — Tujuan akhir bangsa-bangsa

Yes 2:2-3

“…segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya…”. RumahNya lah yang dicari oleh bangsa-bangsa,mereka merindukan rumahNya, karena mereka tahu, hanya dalam rumahNya ada kebenaran. Setiap umat Tuhan harus menyadari, bahwa rumah Tuhan, yang menjadi tempat kehadiran Tuhan, itu adalah tujuan akhir dari pencarian bangsa-bangsa didunia ini. Mereka mencari rumahNya, ya bangsa-bangsa mencari rumahNya! Ketika Tuhan melawat sekolah-sekolah, kampus-kampus, kantor-kantor, keluarga-keluarga, pulau-pulau, maka yang mereka akan kejar dan cari adalah rumahNya. Karena itu, mari saudara, sebagai umat Tuhan, terlibatlah dalam pembangunan rumahNya, dimulai dari hidup kita pribadi masing-masing  yang terus diselaraskan dengan Firman, dari pribadi-pribadi yang demikian kita berkumpul bersama-sama membangun rumahNya, karena kita dalah baitNya. Mari saudara kita siapkan rumah untuk tuaian, karena ini adalah tahun tuaian. Amin!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2018/05/15/mendirikan-rumahnya">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram