RUMAH PUJI-PUJIAN

Renungan Minggu ke 2_Mei 2018

RUMAH PUJI-PUJIAN

Maz 79:13  Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun.

 

Hari Pertama

PUJIAN DI TENGAH KESUSAHAN

Maz 79

Minggu ini kita dikejutkan dengan berita pemberontakan terpidana teroris di Rutan Cabang Cipinang Mako Brimob Depok. Lima orang polisi tewas teraniaya dan satu orang lagi sesudahnya karena disabet pisau beracun. Betapa sulitnya kondisi ini bagi saudara-saudara kita yang mengalaminya, atau keluarga yang ditinggalkan. Apakah mereka masih bisa bersyukur kepada Tuhan meskipun yang dialami tidak seperti yang mereka harapkan? Saya jadi teringat dengan tiga orang siswi SMU Kristen Poso yang dibunuh secara keji pada tahun 2006 dan bagaimana orangtua ketiga korban mengampuni para pembunuhnya.

Kita tidak perlu berandai-andai jika kita di posisi mereka. Selalu ada rencana Tuhan yang indah yang tidak pernah dapat kita pikirkan. Ketika Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi, Dia terlebih tahu bahwa kita mampu melaluinya. Dia hanya ingin melihat respon kita yang tepat ketika menghadapinya. Masmur Asaf dalam Maz 79 menjelaskan betapa mereka sedang dalam kondisi yang sulit untuk memuji Tuhan, tetapi mereka meresponinya dengan tepat: Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun.

Mungkin saudara sedang mengalami sesuatu yang sulit pada saat ini. Bagaimana respon kita? Apakah kita mengeluh, marah, sedih, putus asa, membenarkan diri sendiri dan mencari kambing hitam yang menyebabkan semua kesulitan ini? Atau kita merendahkan diri dan bersyukur atas kasih setia Tuhan. Pilihan ada pada kita!

 

Hari Kedua

TUHAN BERSEMAYAM DI ATAS PUJI-PUJIAN

Maz 22:1-5

Apakah beda nyanyian dengan pujian? Lagu bisa saja sama, yang menyanyikan bisa saja orang yang sama, akan tetapi apa yang keluar bisa berupa hanya sekedar nyanyian atau pujian. Yang membedakannya adalah apakah ada kemuliaan Tuhan yang dinyatakan. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menghadiri dua ibadah natal di dua tempat di Solo. Yang pertama perayaan Natal di sebuah gedung pertemuan yang diadakan sebuah gereja besar di Solo, kemudian keesokan harinya di sebuah desa di Wonogiri. Jelas dari segi mutu musik dan suara yang di gedung jauh lebih baik, akan tetapi air mata saya tidak berhenti mengalir melihat orang-orang desa memuji Tuhan dengan suara gitar yang fals dan sound system yang buruk. Indah sekali.

Ketika pujian dan penyembahan dipanjatkan dengan ketulusan hati maka Roh Tuhan bersemayam di atas puji-pujian itu. Bersemayam berbeda dengan tinggal. Bersemayam ada unsur penghormatan bagi otoritas yang lebih mulia. Seperti seorang Raja yang duduk di singgasananya, maka puji-pujian yang tulus seperti menempatkan Tuhan di atas tahta-Nya. Dia menikmatinya dan enggan untuk beranjak dari tahta-Nya karena keindahan yang Dia dengar. Dia disukakan. Dan ketika hadirat kemuliaan-Nya hadir, maka Dia berbalik ingin menyenangkan kita, anak-anak-Nya.

Mari kita memuji Tuhan dengan menempatkan Dia di tahta-Nya, singgasana-Nya. Biarlah Dia bersemayam di atas puji-pujian kita supaya kemuliaan-Nya terpancar dalam seluruh kehidupan kita.

 

Hari Ketiga

UNCONDITIONAL PRAISE

Kis 16:22-34

Paulus dan Silas ditangkap oleh pengusaha ‘rumah tenung’ karena para penenung terganggu dengan pelayanan mereka. Malahan roh-roh jahat yang mengikat dan menggunakan para penenung diusir dari mereka. Maka Paulus dan Silas dicambuk, ditangkap dan dipasung di ruang penjara yang paling dalam, yang jauh dari kemungkinan lolos. Akan tetapi mereka tidak meresponinya dengan marah kepada Tuhan, melainkan justru memuji dan menyembah Tuhan dengan suara nyaring. Pujian yang tulus yang tidak bergantung situasi itulah yang menggetarkan pintu Sorga. Maka belenggu-belenggupun terbuka dan meskipun mereka mendapatkan kesempatan untuk kabur, itu tidak mereka ambil. Kita tahu bahwa pada akhirnya kepala penjara dan seisi rumahnya percaya kepada Yesus dan dibaptis.

Mungkin kita tidak mengalami kondisi seekstrim itu, tetapi betapa seringnya kita mengeluh dan berat untuk memuji Tuhan karena situasi yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan: bisnis yang semakin sulit, karir yang menghadapi banyak rintangan, kondisi keuangan yang memburuk, sakit penyakit yang silih berganti dan hubungan antar anggota keluarga yang semakin buruk. Sepertinya lidah terasa kaku untuk memuji Tuhan. Ya, itu karena hati dan pikiran kita dikuasai oleh situasi. Tuhan kita jauhhhhh di atas situasi yang kita alami. Tuhan kita mampu mengubahkan itu dalam sekejap. Hanya yang Dia butuhkan adalah respon yang tepat. Mari kita bersyukur dan memuji Tuhan untuk segala kebaikan-Nya yang tidak tergantung pada situasi yang kita alami.

 

Hari Keempat

GAYA HIDUP MENYEMBAH

Mat 26:30-35

Dari prosesi minggu terakhir paskah, kita menyadari bahwa kondisi tersulit bagi Tuhan Yesus adalah ketika Dia berdoa di Bukit Zaitun, sebelum ditangkap. Kesendirian, ketakutan dan kesedihan bercampur baur. Apa yang paling menyiksa seorang terpidana mati? Bukan hukuman matinya melainkan penantian terhadap eksekusi mati. Ketika waktunya semakin dekat, Yesus mengalami pergumulan batin yang hebat, sedemikian takutnya hingga pembuluh darah-Nya pecah dan keluar dari kelenjar keringat.

Tetapi yang harus kita teladani adalah ketika waktunya semakin dekat, Dia tidak mengeluh, curhat atau lari dari fakta, melainkan sebelum berdoa di Bukit Zaitun, Yesus memuji dan menyembah Tuhan. Yesus tahu bahwa kekuatan-Nya akan ditambahkan ketika Dia memuji Tuhan. Tetapi saya yakin, bukan karena situasinya mendesak Dia untuk melakukan itu, melainkan karena pujian dan penyembahan sudah menjadi bagian dari gaya hidup-Nya.

Menjadi gaya hidup adalah sesuatu yang kita lakukan dan kita butuhkan setiap hari, seperti kita butuh makan dan minum. Kita tidak bisa hidup tanpa memuji dan menyembah Tuhan. Itulah gaya hidup.

 

Hari Kelima

THE POWER OF PRAISE

Yes 14:11-15

Musik adalah sesuatu yang kekal. Musik sudah ada sebelum alam semesta diciptakan dan akan terus ada hingga di Kerajaan Sorga. Sedemikian pentingnya musik, sehingga itu bisa menjadi bahasa komunikasi manusia dengan Tuhan. Ketika kita memuji Tuhan, maka hadirat Tuhan turun. Tuhan hadir. Lalu, iblis yang adalah Satan, mencoba menandingi Allah dan ingin dimuliakan. Dia adalah pemimpin malaikat yang bertugas memuji dan menyembah Tuhan. Maka oleh karena kesombongannya, dia dibuang ke bumi menyeret pula musik yang dia kuasai. Itulah mengapa musik menjadi salah satu senjata ampuhnya iblis untuk menjauhkan manusia dari Tuhan.

Musik memiliki dua sisi: baik dan buruk. Seperti pisau untuk kebaikan maupun kejahatan. Sejak zaman purbakala, musik digunakan untuk sarana kesembuhan maupun ritual penyembahan berhala. Saat ini bahkan sudah ada terapi kesehatan dengan musik. Mengingat Tuhan menciptakan musik untuk sesuatu yang baik, maka kita tahu bahwa kuasa pujian kepada Tuhan sangatlah positif. Ada kuasa di dalam puji-pujian kepada Tuhan.

Jika kita menyadari bahwa ada kuasa di dalam pujian, maka gunakanlah senjata itu untuk menghancurkan kuasa maut dan iblis. Ketika saudara sedang dalam serangan, naikkan pujian kepada Tuhan dan lihatlah betapa dashsyatnya kuasa yang menyertai pujian yang saudara naikkan.

 

Hari Keenam

POHON TARBANTIN KEBENARAN

Yes 61:1-4

Tuhan memperhatikan kesusahan kita. Setiap jeritan kita, Dia dengar. Tuhan dekat dengan mereka yang hancur hati. Tuhan memiliki kepekaan untuk menangkap setiap kesusahan anak-anak-Nya. Bahkan sebelum kita menjerit, Dia sudah tahu, Kabar gembiranya adalah Dia tidak berlambat-lambat untuk menolong dan membela kita. Tuhan tidak akan mempermalukan umat-Nya. Ketika kita dicemooh orang karena sepertinya Tuhan yang kita sembah tidak bersegera menolong kita, maka seperti orang yang bermimpi sekonyong-konyong Tuhan bertindak dan memulihkan kita dengan segera.

Tuhan memberkati Ishak dan membedakannya dibandingkan orang sezamannya. Ketika semua dalam kondisi paceklik dan kekeringan, Ishak menabur dan menuai 100 kali lipat pada tahun itu juga. Ishak juga mengalami kekeringan, sama seperti yang lain. Ishak juga berusaha untuk menanam, sama seperti yang lain. Bedanya, Ishak menuai 100 kali lipat, yang lain tidak membuahkan hasil apapun. Tuhan juga akan membuat perbedaan antara kita dengan yang lain pada kondisi yang sulit.

Lalu, kita akan menjadi pohon Tarbantin yang kuat. Pohon ini adalah pohon yang besar, tidak bergantung pada kondisi tanah seberat apapun. Banyak orang akan berteduh di bawahnya. Di tengah padang gurun, pohon ini berbeda.

 

Hari Ketujuh

HOME OF PRAISE

II Taw 5:11-14

House beda dengan home. Sama-sama rumah, tapi beda arti. House adalah bangunan rumah, tetapi home adalah rumah yang artinya keluarga. Seseorang bisa saja tidak berasa ‘at home’ di ‘house’ nya sendiri. Seseorang akan merasa ‘at home’ ketika dia memiliki, diterima dan merasa aman dan nyaman di rumahnya. Di ‘home’ dia memiliki segalanya: keluarga, kekasih, penerimaan, pengakuan, kenyamanan dan keamanan.

Bagaimana membangun rumah kita menjadi ‘home’ bagi Tuhan? Yaitu dengan mengisinya dengan puji-pujian bagi Tuhan. Ketika puji-pujian dinaikkan dengan tulus, maka hadirat Tuhan akan turun dan memenuhinya. Itu karena Dia nyaman dengan rumah kita. Ketika rumah jasmani kita dipenuhi dengan puji-pujian, maka rumah jasmani kita akan dipenuhi dengan kemuliaan Tuhan. Ketika rumah rohani kita dipenuhi dengan puji-pujian, maka Tuhan akan bertahta dan bersemayam di dalamnya. Maka segala keajaiban dan mujizat Tuhan akan dinyatakan dan nama Tuhan dimuliakan. Orang banyak akan berbondong-bondong datang untuk menikmati kemuliaan Tuhan.

Mari saudaraku jadikan rumah dimana saudara tinggal menjadi Home Of Praise bagi Tuhan, maka Tuhan memberkati seisi rumah kita dan segala yang kita lakukan akan berhasil. Dan jangan tinggalkan ‘HOME’ di rumah rohani kita: komsel dan perkumpulan doa, maka Gereja kita pun akan dipenuhi dengan kemuliaan Tuhan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2018/05/15/rumah-puji-pujian">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram