RUMAH DOA-NYA

Renungan minggu ke -4, bulan Mei 2018

RUMAH DOA-NYA

Ayat hafalan : Yesaya 56:7

 

Senin – RUMAH DOA-NYA (Yesaya 56:7)

Tuhan merindukan Gereja.kembali.kepada tujuanNya yaitu.menjadi.rumah doa segala bangsa. Dia rindu umatNya memiliki.pemahaman dan kehidupan doa yg benar yaitu. Doa yang lahir dari umatNya dipilih dan di tempatkan di.gunungNya yang.kudus,

doa yg lahir dari rumahNya, gambaran.umatNya yang hidup dalam kesatuan yg sejati. Doa yang memikiki hatiNya.yang paling dalam agar bangsa-bangsa diselamatkan, bukan doa yang hanya berpusat kepada diri sendiri. Bukan doa yang membawa korban tanpa ketaatan kepadaNya.

 Mari umatNya, bangunlah GerejaNya menjadi rumah doa bagi segala bangsa. (Sbr : RTM)

 

Selasa – DOA UNTUK MENGAHADIRKAN SURGA KE BUMI (2 Korintus 4:18)

Konsekuensi orang yang hidup dalam iman adalah hidup dalam kebenaran Ilahi, karena kebenaran yang adalah firman Tuhan adalah sumber yang memunculkan iman. Jikalau seseorang telah memutuskan untuk hidup dalam iman, maka dia sedang bersiap diri untuk menarik semua berkat rohani menjadi kenyataan di dalam kehidupan kita. Nah untuk mengalami hal demikian, cara satu-satunya adalah hidup di dalam gaya hidup berdoa. Orang bilang “Doa adalah nafas hidup manusia”. Ada benarnya, bagi orang Kristen, seharusnya doa menjadi satu-satunya cara untuk senantiasa member kehidupan bagi roh , jiwa dan tubuh.

Namun seringkali doa hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan jasmani, seperti makanan, minuman, pakaian dan lain-lain. Manusia yang seringkali mempersempit pengaruh kuasa doa yakni menghadirkan Kerajaan surga di rumah tangga, studi, bisnis, pelayanan dan sosial kemasyarakatan. Doa bukan “Saluran pembayaran Tuhan untuk Anda!”. Doa adalah komunikasi yang intim dari orang Kristen dengan Tuhan untuk membangun persekutuan yang suci dan ilahi di dalam kehidupan kita secara detil dan akurat.

Ingin mengalami surga di bumi? Ayo, sekarang berdoa dan terus berdoa dimana pun dan kapanpun. Jangan berdoa karena perasaan emosional saja, tetapi berdoalah karena Anda harus selalu bersekutu dengan Bapa Surgawi.

 

Rabu – Mendirikan tembok (Yeh 22:30; I Pet 4:7)

Tembok berbicara penghalang atau proteksi dari serangan musuh. Di zaman kerajaan Romawi , setiap kota dibangun dengan benteng atau pagar yang sangat tebal. Sebagai contoh Kota Yeriko, dari penemuan ahli arkeologi dikatakan bahwa benteng Yerikho itu terdiri dari 2 lapis tembok. Tembok luar tebalnya 6 kaki (= 1,8 meter). Jarak antara tembok luar dan tembok dalam adalah 12-15 kaki (= 3,6-4,5 meter). Tembok dalam tebalnya 12 kaki (= 3,6 meter). Tinggi tembok adalah 30 kaki (= 9 meter).

Tuhan memanggil umatNya pada masa kini untuk membangun tembok yakni membangun sistem proteksi diri dari rongrongan sistem pemerintahan iblis. Dunia sedang dan terus membangun sistem di berbagai bidang kehidupan, mulai dari rumah tangga, bisnis, pendidikan, pemerintahan sampai skop yang lebih luas, yang intinya adalah sistem penolakan terhadap Injil Kerajaan dan jebakan untuk semua orang untuk menjadi warga kerajaan Iblis. Tapi tidak perlu kuatir, Tuhan sudah mengajarkan bagaimana membangun sistem proteksi hidup bagi gerejaNya. Perhatikan :

Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. (I Pet 4:7)

Tembok yang benar yang harus kita bangun adalah Pertahanan rohani yakni melalui doa. Doa adalah nafas Tuhan yang memberikan kehidupan bagi gereja Tuhan. Ketika kehidupan Ilahi yakni kebenaran FirmanNya tinggal dalam kita, maka ada kekuatan dan hikmat bagi kita untuk selalu menjaga hati dan perbuatan kita untuk selalu benar. Tuhan tidak meminta harta benda kita untuk melindungi diri dari berbagai bentuk ekspresi iblis, tetapi hati dan pikiran yang benar (”Sophroneo” = in right mind-I Pet 4:7, NKJV) adalah tembok terbaik bagi kita untuk menahan kekuatan musuh.

Sebagai gereja, kita  dipanggil untuk mendirikan tembok kebenaran bagi keluarganya sampai kepada kota dan bangsanya. Siapkah anda?

 

Kamis – TUHAN MEMERLUKAN ANDA! (Kejadian 18:16-33)

Perhatikanlan cerita dalam nats Alkitab Kejadian 18:16-33! Allah adalah pribadi yang sangat membenci dosa. Dia tidak mau berkompromi terhadap dosa. Tetapi ketika Allah berencana akan menghancurkan Sodom dan Gomora karena dosa penduduknya, terjadi revisi realisasi dari rencanaNya tersebut. Apa yang membuat Allah mengubah rencananya itu? Apakah karena kasihan semata? Atau karena Abraham? Ada apa dengan Abraham?

Mari cermati. Tuhan dapat mendengar negosiasi (tawar-menawar) dari Abraham untuk membela Sodom dan Gomora dari upaya penghancurannya oleh Tuhan. Bahakan Tuhan merestui permohonan Abraham tersebut. Luar biasa!! Apa penyebabnya? Tuhan bukan kasihan karena negosiasi Abraham tersebut, tetapi Tuhan menemukan hati yang tulus, murni dan penuh belas kasihan dalam diri Abraham. Hati yang bersyafaat (Latin : Intercessor, Go betwen (pergi diantara)) dimiliki oleh Abraham. Dan Abraham memiliki kehidupan yang benar, tidak ada motif-motif egois sehingga sifat dan tindakan Abraham begitu menggugah dan sanggup mengubah rencana penghancuran semua penduduk Sodom dan Gomora.  Ternyata Allah memerlukan orang seperti Abraham.

Tuhan mencari orang-orang yang berfungsi sebagai pendoa syafaat/pengantara (Intercessor) di semua bagian kehidupan. Mulai dari rumah tangga, sampai ke dunia di luar rumah tangga, Tuhan ingin menemukan dan melibatkan para pengantara yang bukan Cuma berdoa tetapi juga berada diantara orang-orang atau komunitas yang sedang mengalami konflik untuk menjadi penyelesai masalah (problem solver).

 

Jumat – ANDA TIDAK DIKONTRAK ALLAH UNTUK MENJADI PENSYAFAAT (II Taw 7:14; Yoh 3:16)

Mungkin anda sedang atau pernah terikat bekerja pada satu perusahaan atau terikat perjanjian bisnis dengan pihak lain. Perjanjian ini disebut perjanjian kerjasama. Setiap perjanjian kerja atau usaha tentu memiliki batas waktu berlaku. Kita mungkin pernah dikontrak oleh pihak lain untuk melakukan tugas-tugas demi kepentingan orang lain.

Menjadi warga kerajaan Allah dan melakukan tugas-tugas di dalamnya adalah ketetapan Tuhan bagi orang-orang pilihannya. Lewat respon kita pada kematian dan kebangkitan Yesus dari antara orang mati, kita telah diikat/dikontrak seumur hidup oleh Tuhan untuk bertugas menjadi pensyafaat, yakni pribadi yang selalu membela orang berdosa untuk mendapatkan hak hidup dalam jaminan hidup kekal di surga. Menjadi pendoa dan penegak kebenaran adalah panggilan orang percaya di setiap detik dan di setiap tempat. Kita tidak bertugas bersyafaat karena ditunjuk atau hanya kita memiliki karunia berdoa syafaat. Atau bukan juga karena  gereja anda kuat dalam berdoa syafaat. Terkadang hal-hal demikian mendorong kita bersyafaat karena situasional. Sebagai anak Tuhan, kita tidak boleh memakai berbagai macam topeng peran. Kita hanya punya satu peran yakni sebagai pensyafaat. Seperti Yesus Kristus yang datang ke dunia untuk menjadi pengantara dunia ke sorga, demikian juga gereja Tuhan haruslah berfungsi demikian.

Mentalitas kontrakan dalam pelayanan haruslah dilepaskan dari diri kita. Biarlah kita sadar bahwa seumur hidup kekristenan kita, kita harus menjadi pendoa syafaat (Intercessor ).

 

Sabtu – Ketahanan Dalam Doa (Markus 14;37-38)

Setelah itu Ia datang kembali, dan mendapati ketiganya sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Ketika Tuhan Yesus mau berdoa di Taman Getsemani, dia berpesan kepada murid-muridNya yakni berdoa dan berjaga-jaga sedikitnya 1 jam saja. Tuhan Yesus punya kesadaran bahwa doa mengandung konfirmasi janji dan kekuatan untuk komitmen melakukan firman Tuhan secara akurat. Sebab jika tidak demikian, maka manusia tidak mampu bertahan apalagi menang menghadapi pencobaan, jikalau hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri (“roh memang penurut, tetapi daging lemah”). 

Itu sebabnya, Yesus meminta murid-murid untuk berdoa, minimal 1 jam (60 menit).

Bagi Yesus situasi tersebut adalah genting, jadi harus berdoa. Setiap kita sesungguhnya ada di situasi genting yang tidak habis-habisnya.

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (I Pet  5:8)

Durasi hanya 1 jam untuk berjaga-jaga dan berdoa adalah gambaran kebutuhan manusia sesungguhnya adalah hidup dalam kekuatan Roh Allah untuk menghadapi setiap bentuk situasi genting, apakah kesulitan demi kesulitan dalam rumah tangga, studi, bisnis atau pelayanan yang bisa saja menjadi krisis besar. Bertahan dalam doa 1 jam atau waktu berkualitas sangat menentukan kelanggengan kehidupan rohani kita.

Berdoalah dalam  waktu yang berkualitas tinggi. Jangan berikan waktu sisa Anda untuk berdoa, tetapi masukkan dalam agenda Anda setiap hari dengan perencanaan yang sangat baik.

 

Minggu KUALIFIKASI PERAIH KEMENANGAN (Yos 6:7-17)

Mari kita persiapkan diri kita untuk menjadi seorang yang memiliki kualifikasi peraih kemenangan dalam doa-doa kita.

Dari pembacaan tentang runtuhnya Tembok Yerikho, kita dapat memetik beberapa pelajaran penting, yakni :

  1. Tuhan tidak pernah mengajar umatNya untuk lari dari persoalan yang ada di hadapannya. Tuhan juga tidak mengambil alih peperangan tersebut. Yang benar adalah Tuhan mengajari kita untuk berperang dengan suatu kepastian bahwa kemenangan pasti menjadi milik kita. Jadi kita harus mau berperang (menghadapi masalah), tetapi kita juga harus ingat bahwa dalam peperangan itu kita tidak sendirian, sebab Tuhan memberikan kemenangan bagi kita.
  2. Mengalahkan Persungutan.Salah satu pelajaran yang sederhana adalah mengalahkan persungutan.Terlalu mudah bagi Tuhan untuk dapat langsung memberikan Yeriko kepada Israel, tetapi Tuhan lebih memilih untuk mendidik Israel. Mereka harus tertib, tidak berbicara satu kata pun. Selama mengelilingi kota Yerikho, mungkin musuh mengolok-olok atau mencemooh mereka, menganggap hal itu perbuatan bodoh, tetapi orang Israel harus ingat  akan perintah Tuhan agar menjaga sikap dan mulut mereka
  3. Biasanya orang akan bersorak sorai ketika kemenangan telah diraih. Melalui peristiwa runtuhnya Yerikho kita diajarkan untuk bersorak sebelum menang! Coba diteliti, ketika bunyi sangkakala ditiup panjang, maka mereka harus bersorak sorai, padahal saat itu tembok Yerikho masih tetap berdiri tegak. TUHAN mengajarkan kepada kita untuk mengucap syukur terlebih dahulu kepada ALLAH sekalipun persoalan yang sedang kita hadapi belum terselesaikan. Inilah prinsip yang harus ada di dalam kehidupan orang Kristen.

Selaraskan hidup anda untuk masuk dalam kualifikasi peraih kemenangan mutlak dalam doa-doa kita.

 Penulis : Pdt.  Santoso Hutabarat, S.Si

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2018/05/25/rumah-doa-nya">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram