RUMAH YANG TERUS MENYALA

Renungan Minggu ke- 3, Juni 2018

RUMAH YANG TERUS MENYALA

 

Imamat 6 : 12 : “Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam. Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana.

 

SENIN – API KEMULIAAN TUHAN – KEHADIRAN TUHAN

(2 Tawarikh 7:1-3)

 Tahun Tuaian berbicara tentang masa dimana kita memperoleh semua apa yang kita harapkan pada masa kita menabur, Tuaian (harvest) artinya kita mengalami kelimpahan janji Tuhan. Sama seperti seorang petani yang menabur, pasti ia mengharapkan hasil dari jerih lelah (korban) selama ia menabur, maka tuaian berbicara penggenapan semua harapan petani semasa menabur.  Dan tahun 2018 adalah tahun dimana Tuhan akan menggenapi janjiNya bagi kita. Untuk kita dapat mengalami semua yang Tuhan janjikan, kita harus mengalami perkenananNya. Tanpa perkenananNya, maka sia-sia supaya yang kita usahakan. Keberhasilan kita bukan ditentukan oleh  manusia tetapi ditentukan oleh kehadiranNya dalam setiap yang kita lakukan.  Dan apa yang dilakukan oleh Salomo dalam nas alkitab yang kita baca hari ini, ia mengalami perkenananNya dengan dibuktikan “api turun dari langit memakan habis korban bakaran dan sembelihan dan kemudian tampak kemuliaan Tuhan.  Kemuliaan Tuhan adalah manifestasi kehadiran Tuhan.

Mari kita belajar dengan perikop ini, ketika Salomo merendahkan dirinya dan berdoa maka kemuliaan Tuhan nyata dalam hidupnya, dan Salomo mengalami semua yang Ia janjikan.

Marilah  kita semua merendahkan diri dan meminta kemurahanNya turun atas apa pun yang kita kerjakan, baik dikeluarga, pekerjaan, usaha dan pelayanan, maka kita akan lihat kemuliaan Tuhan nyata dalam seluruh aspek kehidupan kita. Amin!

 

SELASA  – BIARLAH ROH-MU MENYALA-NYALA

(Roma 12 : 11)

Roh yang menyala-nyala adalah suatu keinginan yang membara, keinginan yang sangat kuat, keinginan yang sungguh-sungguh, semangat yang berkobar-kobar atau antusiasme untuk menyenangkan Tuhan, untuk melakukan kehendak Tuhan, dan untuk memuliakan Tuhan  dengan cara apapun juga.

Istilah dalam bahasa Inggrisnya “passion”. Manusia diciptakan Tuhan dengan dilengkapi passion atau semangat di dalam hidupnya. Tuhan ingin agar kita menjalani hidup dengan passion. Passion adalah alasan mengapa para missioner/ilmuwan/olahragwan bersedia mengorbankan apapun, untuk mencapai apa yang mereka inginkan/impikan.  Alm.Steve Jobs dari Apple Computer pernah berbagi informasi tentang tujuh rahasia suksesnya. Rahasia yang pertama, adalah “Do what you love”. Lakukanlah apa yang menjadi kesukaanmu! Ia pernah berkata, “People with passion can change the world for the better.” Orang yang memiliki passion/semangat dapat merubah dunia menjadi lebih baik.   Hari miliki passion atau cinta yang membara akan Tuhan akan kemuliaanNya, maka Tuhan akan mengerjakan bagianNya dan menunjukkan kemuliaanNya.  Gereja membutuhkaan orang-orang yang menyala-nyala dalam Tuhan untuk membawa bangsa-bangsa datang padanya. 

 

 RABU  –  BIARLAH TERUS MENYALA

(Imamat 6 ; 12-13)

Imamat 6:12-13 “Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam. Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana.  Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.”

GKKD Bogor mulai di rintis dari persekutuan mahasiwa di pertengahan tahun 80-an. Dari persekutuan kecil  inilah lahir sebuah kegerakan besar. Kegerakan terus berkembang dan saat ini telah memberkati ribuan orang di seluruh Indonesia.  Apa rahasia kegerakan besar ini? Jawabannya adalah API YANG MENYALA.  Api yang besar selalu dimulai dari percikan api yang kecil, demikian pula kegerakan di GKKD Bogor dimulai hanya segelintir orang yang merintis persekutuan. Api Roh Kudus ini terus menyambar dan menyebar ke banyak kota di Indonesia, sampai Papua.  Bagaimana dengan kita sekarang? Apakah Api Roh Kudus dalam hidup kita masih menyala? Ketika berkat mengalir, bahkan ketika badai masalah datang, apakah Api Roh Kudus masih menyala? Ketika kelimpahan, masih adakah Api yang berkobar? Ketika kekurangan, masihkah Anda jaga supaya tidak redup? Tuhan Yesus memberkati.

Api ini harus terus kita jaga dalam hidup, komunitas sel dan kelompok usia kita, demikianlah tugas kita sebagat imamat yang Rajani.  dimana tiap-tiap pagi dengan mengorbankan korban bakaran, dengan pujian dan penyembahan yang indah bagi Dia Sang Raja.

Masihkan kita terus komitmen untuk menjaga Api Tuhan terus menyala?

 

 KAMIS  – BIARKAN API ITU TERUS MENYALA

(Imamat 6 ; 12-13, 1 Petrus 2 ; 9 )

Seperti ayat di atas, begitulah kita manusia harus selalu menjaga agar nyala Api Roh Kudus tetap berkobar-kobar di dalam kehidupan kita. Dan butuh usaha lebih dari kita supaya kobaran Api Roh Kudus tetap menyala – menyala.

Nah sekarang bagaimanakah cara agar Api Roh Kudus selalu menyala dan berkobar – kobar?

  1. Konsisten

Dikatakan “Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana.”  “Tiap-tiap pagi” berbicara tentang konsisten atau terus menerus menjaga keintiman dengan Tuhan Yesus, dan konsisten disini berarti tidak ada satu haripun yang terlewatkan.

Iblis bagai singa yang selalu siap menerkam kalian kapanpun, karena itu berjaga – jagalah, jangan biarkan angin kencang “masalah” datang dan memadamkan Apimu.

  1. Fokus

Fokus yang dimaksud di sini adalah fokus pada misi dan rencana Allah yang Tuhan berikan di dalam hidupmu dan komunitasmu.

Jika sudah kau ketahui apa misi hidupmu, FOKUS dan berlarilah sampai ke tujuan dari misi Tuhan tersebut.

  1. Menyala

Bicara mengenai roh yang bertaut dengan Roh Tuhan, bicara semangat yang menyala-nyala.  Membakar apapun yang ada dihadapnya, menyala juga  bicara tentang terang (memberi terang) bagi kegelapan.

Ketika rohmu terus menyala-nyala maka akan membawa banyak orang yang ada dalam kegelapan menuju terangNya yang ajaib (1 Petrus 2 :9)

 

JUMAT  : PERATURAN IMAN DI RUMAH TUHAN

(Imamat 6 : 8-13)

Jika kita merenungkan ayat 8 sampai 13 maka Tuhan memerintahkan seorang iman haruslah menyiapkan korban bakaran dan memastikan harus tinggal diatas perapian (mezbah) semalam-malaman sampai pagi, ini bicara tentang pujian dan penyembahan atau hubungan atau keintiman yang senantiasa dengan Tuhan (tanpa jeda). Ini juga berbica tentang bagaimana kita senantiasa mengingat pengorbanan Yesus dikayu salib untuk selamat hidup kita

Imam juga harus mengenakan  pakaian lenan-nya dan menggunakan  celana lenan untuk menutup auratnya.  Ini bicara tentang menjaga kekudusan hidup, agar tidak tercemar dari dunia ini (dosa dan pelanggaran).  Iman juga bertugas untuk mengangkat abu dan membuangnya dari mezbah. 

Abu bicara sesuatu yang tak berguna dan harus dibuang, antara lain segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah, demikian pula segala kejahatan.” Inilah abu yang harus kita buang dari rumah kita.  Membakar lemak korban keselamatan ini bicara tentang  Allah menginginkan yang TERBAIK dari diri kita.  Janganlah membawa sisa-sisa kepada Tuhan.

Demikian setiap hari dilakukan seorang iman dalam rumah Tuhan.  Sudahkah kita melakukan yang sama?

 

SABTU   –  MEMBANGUN MEZBAH

(Efesus 5; 2, imamat 1 : 1-17, Ibrani 12 ; 24)

Kata “Mezbah” berasal dari kata kerja (to slay) yang secara harafiah berarti “membantai“. Mezbah adalah tempat menaruh korban persembahan (mizbe ah)  dan setelah itu, api Tuhan akan datang pada mezbahnya dan setelah itu kita harus menjaga apinya.  MEZBAH adalah tempat HUBUNGAN antara Bapa dengan kita, dimana merupakan tempat hubungan yang suci dia dan dengan segenap hati dimana Dia bertemu dengan kita, dan api-Nya dapat turun.   Nuh membangun Mezbah, Abraham membangun mezbah, Musa membangun Mezbah, Harun membangun mezbah, Yosua membangun Mezbah, Samuel membangun mezbah bagi Tuhan, bahkan Saul membangun mezbah bagi Tuhan, dan seterusnya. Juga dalam kitab Ezra juga dikatakan “membangun mezbah“. Kita telah diberikan kunci yang sedang disingkapkan disini kalau kita ingin mengalami gerakan Allah berikutnya!

Yesus adalah mezbah yang sempurna dalam hidup kita, korban yang sempurna bagi kita semua, salib Tuhan Yesus adalah mezbah termulia, dan daging darah-Nya adalah korban terindah. Hai orang beriman, mari kita selalu datang kepada-Nya (Ibrani 8 ; 3) dan Efesus 5 ; 2)

Mezbah atau kehadiran Tuhan adalah syarat Utama dalam kebangunan rohani, baik secara Pribadi maupun secara komunitas.

 

MINGGU – MEMBANGUN MEZBAH KELUARGA KITA

(Ulangan 6 :7)

 Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ul. 6:7)

Nasihat ini diberikan oleh Musa kepada bangsa Israel sebagai perintah alkitabiah untuk membangun ibadah keluarga. Ibadah kepada Tuhan bermula di rumah dan mencakup seluruh anggota keluarga. Bagi Bangsa Israel, kehidupan keluarga dan iman berkaitan sangat erat. Pada sore hari, para orangtua mengajarkan perintah Tuhan kepada anak-anak mereka. Mereka didorong untuk mengingat dan mengulang-ulang firman Tuhan dan mencari tahu tentang iman dan sejarah mereka

Ketika Abram meninggalkan Haran dan masuk ke Kanaan, hal pertama yang dia lakukan adalah mendirikan “mezbah bagi Tuhan” (Kej. 12:7).  Mezbah ini adalah sebagai tempat untuk mempersembahkan korban – dan ia menjadi fokus dalam kehidupan keluarga Abram. Mezbah adalah tempat ibadah di mana dia dan keluarganya memberikan persembahan kepada Tuhan dan mengakui bahwa sebagai sebuah keluarga, mereka membutuhkan petunjuk dan pimpinan-Nya. Tuhan menghargai persembahannya sehingga memberkatinya.

Mezbah keluarga berarti para anggota keluarga mempersembahkan waktu untuk menyembah Tuhan bersama-sama di rumah. Membangun mezbah keluarga adalah pekerjaan yang penting dalam rumah seorang percaya karena itu menegaskan bahwa Tuhan adalah pusat rumah tangga kita. Kita membutuhkan bimbingan-Nya sama seperti yang dilakukan Abram. Mezbah keluarga juga memberi para anggota keluarga tempat pribadi untuk menyembah Tuhan, membahas perkara-perkara rohani dan berdoa sebagai sebuah keluaga. Yuk Membangun mezbah keluarga.

Penulis :Pdm.  Ir. Rudi Langitan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2018/06/28/rumah-yang-terus-menyala">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram
SHARE