GUNUNG HOREB

Renungan Minggu Ke- II, JULI 2018

Gunung Horeb

Kel 3:12 Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda  bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.

Senin

Gunung Horeb, Gunung Allah

Keluaran 3:1

Gunung Horeb, nama gunung ini berarti tandus, sebuah tempat yang ditelantarkan, mandul, dan kering.  Selama 40 tahun Musa berada di daerah sekitar gunung Horeb setelah melarikan diri dari Mesir menggembalakan domba-domba. Saat itu Musa telah kehilangan segalanya, mimpi-mimpinya telah mati, dan ia kehilangan tujuan hidupnya. Kabar baiknya Tuhan belum selesai bagi hidup Musa, dan Dia adalah Allah yang setia dalam hidup Musa dan juga dalam hidup setiap kita.

Seperti yang sering dilakukan Tuhan terhadap berbagai rintangan dalam kehidupan seseorang, Tuhan mengubah gunung yang tandus ini menjadi gunung Allah. Kejadian ini menggambarkan kesanggupan Tuhan untuk memperbaiki, menyembuhkan, dan memunculkan kebaikan dari keburukan. Horeb tidak selalu mengerikan, Musa berjumpa dengan Tuhan menemukan panggilan hidupnya disana. Gunung Horeb menggambarkan sifat paradoks Kerajaan Allah dalam kehidupan nyata – bahwa kebaikan dapat muncul dari keburukan, bahwa kita bisa menjadi pribadi yang paling kuat dalam kelemahan kita dan bahwa kehidupan bisa muncul setelah kematian.

 

Selasa

Panggilan Allah

Kel 3:1-4, 10

Setiap orang di panggil untuk menerima keselamatan dari TUHAN, namun memang tidak semua merespon panggilan tersebut. Dan bagi yang memberi tanggapan terhadap panggilan Allah, mereka juga menerima panggilan yang unik dan berbeda-beda, seperti halnya panggilan terhadap Paulus, Yohanes, Daniel, Yosua dan dalam renungan kali ini adalah panggilan Allah terhadap Musa. Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. … Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. … Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.”

Dan inilah panggilan yang diterima Musa: Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” Membawa umat Allah keluar dari perbudakan mesir atau kalau dalam konteks saat ini adalah membawa umatNya keluar dari perbudakan dosa dan masuk dalam rencana Tuhan yang sempurna. Pertanyaannya apa panggilan Tuhan buat saya? Dan bagaimana respon kita saat ini? Masihkah kita hidupi panggilanNya?

 

Rabu

Berpusat pada diri sendiri

Kel 3:11-12

Respon Musa terhadap panggilan Allah di gunung Horeb adalah berkata Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”  Ini adalah respon manusiawi yang mungkin di alami setiap kita, ketika kita menerima panggilanNya, kita malah melihat pada diri kita dan bertanya siapakah aku ini? Apalagi menyadari serangkaian kegagalan yang pernah di alaminya. Seperti kisah Musa yang pernah menjadi Pangeran di Mesir, namun malah lari meninggalkan Mesir karena melakukan pembunuhan ketika hendak mendamaikan dua orang Israel yang berkelahi. Dia lari sebagai orang yang kalah.

Ketika seseorang berpusat pada diri sendiri, yang mungkin dilakukan adalah menjadi minder karena melihat apa yang tidak ia miliki ataupun kekalahannya. Atau ia juga akan menjadi sombong dan menepuk dada untuk hal-hal yang ia miliki. Ia akan berkata “Lihatlah aku ini…” dengan nada yang congkak karena merasa benar dan memiliki sesuatu untuk ditunjukkan. Namun jawaban Tuhan untuk kedua hal ini adalah: Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” Allah justru mengatakan jangan pandang dirimu. Pandanglah Aku, Allah yang akan menyertaimu dan memberikan tanda-tandanya. Ini adalah sikap berpusat pada Allah yang Imanuel, hadir di tengah-tengah kita dan bersama kita.

 

Kamis

Berpusat pada dukungan manusia

Kel 3:13-14

Masih di Gunung Horeb juga, Musa berdialog dengan Allah. Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Jawaban Musa yang kedua berkata “Siapa yang mengutus aku”, atau siapa yang mendukung aku, siapa yang menjadi backing-ku. Ini adalah kecenderungan orang ketika menghadapi tugas, panggilan, masalah dll. Yang sering muncul di pikirannya pertama kali adalah – siapa saja yang akan mendukung diriku. Bagi kita dukungan itu bisa berupa dukungan moral dan finansial dari orang tua, dukungan teman terdekat kita. Yang pasti, jika kita tahu ada orang yang mendukung, maka kepercayaan diri pun meningkat. Namun jika kita tidak memiliki pendukung, kita pun akan merasa minder dan cenderung merasa gagal. Inilah yang disebut berpusat pada dukungan manusia.

Bagaimana Tuhan menjawab? Lagi-lagi Tuhan menarik perspektif Musa untuk melihat bahwa yang menjadi pemberi mandat padanya adalah “Akulah Aku”, yaitu Allah yang hidup dan kekal, yang ada dari awal sampai tak berkesudahan. Ini adalah sikap hidup yang berpusat pada Allah yang hidup dan kekal. Sekalipun kita tidak mendapatkan dukungan atau hanya sedikit orang yang mendukung kita, mari pandang DIA, Allah yang kekal, yang panggilanNYA sempurna dan tidak mungkin gagal.

 

Jumat

Berpusat pada penerimaan orang

Kel 4:1, Maz 23:4

Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” Musa memberi alasan bahwa ia takut orang-orang tidak akan menerima dan mempercayainya. Mengalami kegagalan sekali membuat Musa memiliki trauma untuk mencoba lagi. Belum bekerja, ia sudah merasa akan gagal dan ditolak oleh orang-orang. Betapa banyak kita melihat orang-orang, termasuk juga orang yang percaya, yang menjadikan takut ditolak sebagai motivasi dalam hidup ini. Mungkin karena mereka sudah terluka, sama seperti Musa terluka. Namun kemudian ketakutan ini menjadi motivasi terbesar dalam hidup seseorang. Inilah hidup yang berpusat pada penerimaan orang. Hidup dalam sikap seperti ini sebenarnya mencerminkan ketakutan kita yang terdalam: Apakah kita lebih takut pada manusia, atau kepada Tuhan? Ketika kita takut pada sesuatu yang bukan Allah, kita sedang tidak takut pada Allah. Apa atau siapakah yang paling engkau takuti saat ini?

Ketika kita memandang kepadaNya, semua ketakutan kita akan pudar, tidak ada yang kita takuti dalam hidup kecuali kepada Allah sendiri. Dan kita akan berkata seperti pemazmur: Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itu lah yang menghibur aku.  Dia cukup bagi kita.

 

Sabtu

Berpusat pada kelemahan diri

Kel 4:10

Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” Alasan Musa yang keempat adalah bahwa ia tidak pandai bicara. Mungkin karena itulah ia gagal dalam perjuangannya yang pertama, karena ia tidak mampu bernegoisasi dan menjadi mediator yang baik. Namun kegagalan itu juga membuat Musa merasa bahwa ia tidak memiliki sesuatu yang dibutuhkan untuk pekerjaan yang Allah berikan. Betapa banyak orang percaya yang hidup seperti Musa: memandang kegagalan diri, kelemahan-kelemahan, berfantasi untuk hal-hal yang tidak dimiliki. Ini adalah hidup yang berpusat pada kelemahan diri. Kelemahan juga ada untuk kita sadar bahwa kita membutuhan Tuhan dan membutuhkan orang lain dalam tubuh Kristus.

Allah sudah menerima kita apa adanya, namun Ia tidak membiarkan kita hidup seadanya. Ia mau kita bertumbuh dalam kekudusan. Namun kelemahan bukan alasan untuk menolak panggilan Allah, karena Ia tahu dan memahami diri kita lebih dari siapapun. Ketika Ia memberi tugas, Ia bisa gunakan kelemahan diri sebagai alat untuk menyatakan kekuatannya. Kekuatan dalam kelemahan. Bagaimana Allah menjawab Musa – lagi-lagi dan menarik perhatian Musa pada pribadi-Nya. Ia mengatakan bahwa Dialah Allah yang menciptakan dan menghidupkan. Ia adalah Allah yang berkuasa. Ini adalah hidup yang berpusat pada kuasa Allah yang memampukan kita.

 

Minggu

Berpusat pada kemauan sendiri

Kel 4:13

Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” Dengan begitu banyaknya alasan, yang telah dipatahkan oleh Allah, apa kiranya yang menjadi alasan Musa? Ia serta merta menolak tugas Allah dan meminta agar Allah mengutus orang lain saja. Sebenarnya semua alasan yang diberikan oleh Musa adalah pembenaran untuk ketidakmauannya menaati perintah Allah! Ia menolak panggilan Allah karena ia memiliki kehendaknya sendiri. Sama dengan begitu banyak orang percaya, yang hidup dalam kemauannya sendiri, dan menolak hidup dalam ketaatan kepada Allah. Ini adalah hidup yang berpusat pada kemauan sendiri.

Dan Allah murka. Ia murka karena semua alasan Musa hanyalah pembenaran semata. Ia murka karena dengan menolak panggilan Allah, Musa sebenarnya sedang menolak Allah. Semua sudah dipersiapkan, bahkan sebelum Allah bertemu dengan Musa, karena Allah sudah mempersiapkan Harun sebagai pendamping Musa. Ini adalah hidup yang berpusat pada kehendak Allah, dan bahwa Allah sendiri yang akan menyediakan apa yang kita butuhkan untuk menyelesaikan panggilan-Nya dalam hidup kita. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memiliki atau mempertimbangkan panggilan Allah dalam hidup? Atau apakah kita justru sedang bergumul dan mencarinya? Segeralah miliki panggilan hidup yang berpusat kepada TUHAN. 

Penulis : Ev. Albert Surya Wanasida

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2018/07/09/gunung-horeb">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram