KEMERDEKAAN SEJATI

Renungan Minggu ke 3, Agust 2018

KEMERDEKAAN SEJATI

Ayat hafalan : Roma 6:18

Senin – Kemerdekaan Sejati (Roma 6:18)
Hari-hari ini kita sedang merayakan kemerdekaaan Indonesia.yg ke 73 tahun. Kemerdekaan Indonesia adalah untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan oleh para pendiri bangsa yang dituliskan dalam pancasila. Umat Tuhan diingatkan akan makna kemerdekaan sejati,yaitu ketika menerima Yesus sbg Tuhan dan juruselamat.

Begitu pentingnya mengalami kemerdekaan, karena ketika merdeka maka dia akan bebas atau hidup dalam damai sejahtera lepas dari beban ketakutan dan keterikatan dalam dosa sehingga bisa mencapai tujuan Tuhan dari mulanya. Kemerdekaan,bukan berarti bebas semaunya,atau menjadi liar. Kemerdekaan sejati adalah dengan menyerahkan seluruh hidup kita kepada kebenaran. Karena manusia akan sepenuhnya jadi dirinya ketika dia hidup sepenuhnya dalam.kebenaranNya. kemerdekaan sejati adalah ketika pusat kendali dirinya diserahkan kepada kendali Roh Kudus, atau disebut dipimpin berjalan didalam Roh Kudus.

Mari alami tujuan Dia dalam hidupmu dg melepaskan kendali hidupmu kepda Roh kudus dan hidup sepenuhnya dalam kebenaranNya..MERDEKA!! (Sumber : Pdt. Dr. Ir. Rachmat T Manullang, M.Si)

Selasa – KEMERDEKAAN SEJATI : KONSISTENSI BERPIKIR SEBAGAI UMAT TEBUSAN YESUS KRISTUS (Gal 5:17)
Kehidupan orang Kristen bukannya tanpa kesalahan. Meskipun ia telah diperbaharui kembali kepada kondisi asalnya, pembaharuan ini tidaklah sempurna sampai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Orang Kristen berkecimpung dalam peperangan yang dahsyat antara kebenaran dan dosa. Paulus menjelaskan konflik ini sebagai berikut:
Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (#/TB Gal 5:17)
Roh Kudus yang tinggal di antara orang-orang percaya berada dalam peperangan dengan pemikiran daging manusia. Sebagai akibatnya, ada dua prinsip yang bekerja dalam diri orang percaya, yang satu kepada ketaatan dan yang lain pada ketidaktaatan. Walaupun orang Kristen berusaha untuk bergantung pada Allah dengan memperhatikan wahyu-Nya untuk mendapatkan pengetahuan dan moralitas, namun ia gagal untuk melaksanakan keinginannya secara terus menerus. Pada waktu tertentu orang Kristen dapat kembali kepada dosa yang terjadi pada waktu kejatuhan dengan memberontak atau mengabaikan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan.
Oleh sebab itu mari kita melakukan kebenaran berikut setiap saat dan penuh iman :
Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. (Roma 8:5)

Rabu – Pembaharuan Pikiran Bawah Sadar (2Ko 5:17; Yoh 3:7)
Pada saat kita memikirkan mengenai keselamatan dalam Kristus, biasanya kita hanya memikirkan tentang akibat dari percaya kepada Dia bagi kehidupan kekal kita. Hal ini penting, namun untuk lebih tepatnya, saat ini kita perlu memfokuskan dengan lebih teliti pada kepentingan kebalikan dari kejatuhan dan akibatnya pada karakter manusia dalam hal pengetahuan dan moralitas.
Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus persyaratan untuk memasuki kerajaan Allah dengan mengatakan sebagai berikut:
Kamu harus dilahirkan kembali. (#/TB Yoh 3:7)
Kelahiran baru harus terjadi pada diri orang tidak percaya. Sebagaimana ia telah lahir di dalam Adam demikian pula ia telah jatuh dalam belenggu dosa, sebagai suatu permulaan, kelahiran baru harus terjadi. Paulus menyatakannya sebagai berikut:
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (#/TB 2Ko 5:17)
Pada saat kita diselamatkan dari dosa-dosa kita, kita tidak hanya dilahirkan baru secara pribadi; namun kita memasuki suatu ruang lingkup keberadaan yang baru (ciptaan yang baru). Oleh karena itu, seluruh kehidupan orang percaya adalah untuk mengalami perubahan yang berawal dari kelahiran baru.

Kamis – Kuasa Kemerdekaan adalah Kuasa Perkataan Untuk Menang (Yoh 8:31-3
Organ mulut yang kita miliki adalah organ yang sangat penting yang diciptakan oleh Tuhan. Mengapa demikian? Alkitab menjelaskan bahwa dari mulut manusia bisa keluar kata-kata berkat maupun kata-kata kutuk. Dari mulut kita keluar pesan yang membangun atau pesan yang menghancurkan.
Namun demikian sebagai anak Tuhan yang terus belajar membangun hidup di atas firman Tuhan, sudah seharusnya setiap perkataan kita adalah perkataan Tuhan, sebab perkataan Tuhan adalah kebenaran. Sebagai umat tebusan yang telah menerima firman yakni Yesus Kristus (Yoh 1:1-12), kita mempunyai takdir untuk mengalami semua janji Tuhan yakni firmanNya sendiri.

Perkataan yang berkuasa yakni perkataan kebenaran dari mulut kita dapat selalu kita ekspresikan jikalau kita membudayakan diri untuk menjadi perenung dan pelaku firman Tuhan yang setia dan taat. Budaya hidup hanya karena prinsip, ketataan dan perintah Tuhan akan pasti membangun pola pikir, pola rasa dan pola tindak kita yang akurat dan produktif (Ul 28:1-2).
Oleh sebab itu gunakanlah mulut kita sebagai saluran berkat kepada diri Anda dan orang lain dengan selalu memperkatakan kebenaran Tuhan.

Jumat – Merdeka dari Sifat Emosional (Ulangan 4:1-17)
Musa adalah seorang Ibrani yang biasa, tetapi dipilih oleh Tuhan untuk mengerjakan satu tanggung jawab yang sangat besar dan strategis. Siapakah Musa? Dia seorang dengan pola kerja dengan penetapan dan pemeliharaan standar-standar yang tinggi; sangat penting untuk melakukan sesuatu dengan benar dan menetapkan pengawasan kualitas yang baik; menaruh perhatian besar pada hal-hal kecil. Musa juga seorang yang setia pada tugas dan tanggung jawab. Dapat mempengaruhi orang lain dengan sikap; perhatian pada hal-hal rinci dan ketepatan. Gambaran umum karakter Musa terlihat pada saat dialognya dengan Tuhan pada saat Tuhan memanggilnya untuk mengemban tugas kepemimpinan dengan memimpin bangsa Israel menuju tanah Kanaan.
Terlepas dari kelebihan dan kelemahan Musa, sesungguhnya Musa takluk pada otoritas firmanNya yang mengandung kebenaran dan kuasa. Musa mampu melihat di balik kelemahannya ada satu kesempatan emas dari Tuhan untuk melatih Musa menjadi pribadi dan seorang pemimpin yang unggul. Itulah respon yang benar. Respon yang benar adalah ekspresi dari responsif yakni respon yang bertanggung jawab dan dewasa. Setiap kita tentu pernah menghadari situasi dan orang yang tidak menyenangkan hati kita. Atau juga mungkin anda pernah kehilangan barang yang sangat disayangi. Karakter kita adalah respon kita terhadap kondisi-kondisi yang demikian.
Mari selalu membuka hati untuk firmanNya maka anda mampu selalu berespon benar (tidak dengan emosional tinggi), maka permasalahan anda pasti akan selesai.

Sabtu – Pembebasan Oleh Kristus , Dasar Kedisiplinan Diri (I Samuel 13:4-14)
Hidup di dalam firman Tuhan adalah satu-satunya pilihan untuk kita bisa mengalami hidup yang sukses. Hidup sukses bukan saja menerima berkat dari Tuhan baik berkat rohani maupun berkat jasmani, tetapi adalah hal yang sangat penting untuk kita juga hidup dalam kedisiplinan rohani. Disiplin rohani berarti melakukan apa yang firman Tuan katakan, bukan apa yang manusia inginkan. Disiplin rohani berarti ketaatan mutlak kepada Tuhan secara akurat.

Saul seorang manusia biasa yang dipilih Tuhan untuk menjadi Raja Israel. Dia melakukan perintah Tuhan yang disampaikan oleh nabi Samuel. Namun di balik keberhasilannya menumpas bangsa Amalek, ternyata Saul memiliki kelemahan di kala rakyatnya memintanya membawa pulang jarahan perang yang berupa hewan-hewan tambun dan barang-barang dari bangsa Amalek yang masih berharga. Saul juga tidak membunuh Agag sebagai Raja bangsa Amalek. Ketidaksabaran dan ketidaktaatan Saul telah berdampak serius pada karir kerajaannya. Akhirnya Tuhan mencabut otoritas sebagai raja dari Saul akibat ketidaksabaran dan ketidaktaatannya pada Firman Tuhan.

Disiplin rohani adalah kehidupan kekristenan yang bersifat kontinyu. Disiplin rohani bukan bersifat musiman (Yoh 15:7). Disiplin rohani akan membangkitkan stamina rohani kita. Di saat stamina rohani diperkuat maka, pekerjaan rohani yang besar dan semakin besar akan kita kerjakan.

Minggu – Pelayanan Yang Merdeka , Pelayanan di atas Janji Tuhan (2 Tim 4:6-7)

Seorang pemenang adalah seorang yang mengerti dan berpegang kuat pada setiap perkataan dan janji Tuhan serta melakukannya dengan kesetiaan. Pemenang dalam Kristus bukan sekedar mencapai garis akhir kehidupannya tetapi juga hidup secara konsisten dalam iman yang dimilikinya sampai akhir hidupnya.

Namaku Imelda Saputra, aku seorang penulis. Sebenarnya dulu aku tidak pernah berpikir akan menjadi seorang penulis, namun inilah cara Tuhan memakai aku menjadi penanya untuk. Aku terlahir sebagai anak normal, namun saat aku masih balita orangtuaku menemukan sebuah benjolan di punggungku. Ternyata saraf kaki kusut di benjolan tersebut. Dokter menyarankan untuk operasi, tetapi ketika operasi dilakukan ternyata ada efek samping yang terjadi, yakni kakiku bengkok dan menciut. Akhirnya aku tidak pernah bisa berjalan, aku lumpuh. Orangtuaku melakukan berbagai upaya agar aku bisa berjalan lagi, mulai dengan ke dokter, tukang urut hingga ke dukun. Tapi usaha yang dilakukan oleh orangtuaku selama bertahun-tahun sia-sia belaka, aku pun telah lelah dan hampir putus asa. Karena anugrah Tuhan, aku bisa sekolah di sekolah umum sekalipun aku cacat dan harus menggunakan kursi roda. Kadang memang ada orang yang memandangku dengan aneh karena keadaanku. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, suatu hari aku jatuh pingsan karena tidak tahan lagi dengan sakitku. Dokter memvonisku dengan penyakit dekubistus dan juga tipes akut sehingga aku harus di rawat di rumah sakit. Mulai bulan Mei di tahun itu, aku berhenti sekolah. Aku tertekan dan putus asa karena aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Namun ketika aku mendengar kesaksian seorang perawat yang sakit disembuhkan, semangatku bangkit kembali. hamba Tuhan itu berdoa untukku, saat itu Tuhan menyampaikan isi hati-Nya kepadaku melalui hamba Tuhan itu. Salah satunya adalah:
“Kamu akan nulis buku, kamu akan Tuhan pakai jadi penanya Tuhan.”
Sempat aku merasakan keraguan, “Bener nih Tuhan?”
Tapi saat itu juga Tuhan berbicara, “Aku yang akan melakukannya, bukan kamu.”Selama beberapa tahun aku hanya menulis, tanpa ada tanda-tanda janji Tuhan itu terwujud. Hingga tiba di tahun 2008, sebuah penerbit menghubungiku.
“Imelda, bukunya di terima ya, kami terbitkan.”
Aku seakan tidak percaya, “Buku… penerbit.. buku yang mana ya?”

Aku merasa sangat senang lagi, ternyata memang janji Tuhan itu tidak pernah gagal. Kini semua nubuatan itu telah menjadi kenyataan. Melayanilah hanya karena janji Tuhan, bukan karena diminta orang lain atau karena system tertentu. (Sumber : Imelda Saputra (jawaban.com))

Penulis : Pdt. Santoso Hutabarat, S.Si

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2018/08/21/kemerdekaan-sejati">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram