IMAN YANG TEGUH

Renungan Minggu ke -III, September 2018

IMAN YANG TEGUH

Kolose 1:23 (TB) Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

Senin

Iman yang berserah kepada Allah

Matius 11:28

”Orang yang bobrok seperti aku ini.” Saya menyukai kata-kata dari lagu Amazing Grace”. Lagu ini ditulis oleh John Newton, yang selama bertahun-lahun menjadi kapten kapal pedagang budak. Suatu hari, ditengah badai yang ganas, kapalnya tengah tenggelam. Ia sedang membaca Perjanjian Baru dan berdoa dalam keputusasaannya, ”Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan.” Allah membawanya melalui badai dan kapal yang tengah tenggelam itu tidak sampai menyentuh dasar laut. Kapal itu tetap mengambang di bawah garis air dan hanyut, sampai akhirnya terdampar di suatu pulau. Newton telah berdoa, ’Tuhan, kalau Engkau membebaskan aku dari sini, aku akan menyerahkan hidupku pada-Mu.”

Tuhan membangkitkannya menjadi pengkhotbah dan pendeta gereja, dan akhirnya ia menggubah kata-kata ini:

Sungguh besar anugrah-Nya

Yang tlah kuterima,,

Dulu kutersesat, namun sekarang,

aku diselamatkan.

Apakah yang harus dibawa oleh Newton untuk duduk berunding dengan Allah? Tidak ada sama sekali. Tidak ada, kecuali kerelaan untuk berserah kepada Allah dan menerima tawaran karunia-Nya yang cuma-cuma. Bukankah itu jalan yang indah untuk memulai kehidupan Anda bersama-sama dengan Allah? Tidak ada seorangpun dari kita yang keadaannya terlalu buruk untuk dapat datang kepada Allah.

 

Selasa

Iman yang hidup

Yakobus 2:14-17

Kita tahu bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.  Iman bukanlah sesuatu yang membuat orang hanya percaya kata hanya karena pokoknya, tetapi membuat orang tahu ada alasan dan dasar dalam suatu kesadaran yang penuh untuk mempercayai sesuatu yang ia percaya.  Bagi kekristenan maka Iman Kristen percaya pada dasar firman Tuhan dan segala kebenaran yang tertulis di dalamnya.  Firman itu hidup dan menghidupkan mereka yang beriman kepada Yesus Kristus.  Iman bukanlah sesuatu yang mistis tetapi ia realistis adanya dan mempunyai dasar yang kokoh sebab pusat dari iman adalah percaya kepada Kristus sang sumber kehidupan.

Iman yang sejati terlihat dari perbuatannya.  Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Perbuatan adalah pakaian dari iman yang bisa tampak terlihat dengan jelas.  Jangan katakan bahwa orang itu sangat cukup beriman padahal tidak pernah sedikitpun muncul tindakan iman yang benar dari perbuatannya.  Itu sama seperti orang yang berkata mengasihi namun tidak pernah mengungkapkan dan berbuat untuk menyatakan kasihnya itu.  Iman yang hidup adalah iman yang berbuat, sementara iman yang mati adalah tanpa perbuatan.

 

Rabu

Mengalami penyertaan Tuhan

Ibrani 13:5-6

Mengalami penyertaan Tuhan yang lebih nyata, mengalami anugerah Tuhan yang lebih berwujud. Pada waktu kita berada di dalam kesulitan, pada waktu kita diuji oleh Tuhan, iman kita tidak gampang dipatahkan. Iman yang lemah bagaikan kertas yang mudah dirobek. Iman yang kuat seperti karet yang tidak mudah dipatahkan, ulet dan kuat. Iman menjadi kuat karena penyertaan Tuhan itu sudah semakin kita sadari, bahkan kita alami sendiri, bukan lagi merupakan argumentasi atau perdebatan, melainkan merupakan fakta. Jika kita sudah mengalami akan penyertaan Tuhan secara nyata, untuk apa kita berdebat lagi? Silakan orang atheis melawan Tuhan, silakan membuat teori untuk melawan keberadaan Allah. Bagi kita tidak ada kompromi, karena fakta tentang penyertaan Tuhan kepada kita adalah begitu riil, sehingga kita tidak merasa takut. Seseorang yang mengalami penyertaan Tuhan yang begitu nyata akan memiliki iman yang kokoh.

Iman membuat kita menyadari penyertaan-Nya, pekerjaan-Nya, kesetiaan-Nya. Allah adalah Allah yang setia dan tidak berubah, yang berjanji dan bekerja. Allah sudah berjanji tidak meninggalkan kita. Yesus tidak pernah mengecewakan kita. Yesus menyertai kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Allah adalah Allah yang menyertai kita sampai selama-lamanya.

 

Kamis

Tepat waktuNYA

Pengkhotbah 3:11

Dia memelihara dengan senantiasa memperhatikan kita, bukan saja karena kita dijamin oleh kesetiaan-Nya dan ketidakberubahan-Nya, tetapi Dia akan terus memelihara dengan mata-Nya yang tidak pernah meninggalkan kita. Kadang-kadang kita merasa seolah-olah ditinggalkan oleh-Nya, sebenarnya tidak! Tuhan bersabda, “Aku memelihara kamu: waktu kamu menangis, waktu kamu tidak mempunyai uang, waktu kamu sakit, waktu mengalami umpatan, fitnahan dan umpatan besar.” Tetapi jangan mengira Dia akan langsung menyelesaikan semua itu seturut dengan waktumu.

Pemeliharaan Tuhan mempunyai satu prinsip: menurut waktu dan cara-Nya, bukan menurut waktu dan cara kita! Sekalipun Tuhan belum muncul dan belum memberikan pertolongan pada saat-saat yang sulit, biar iman kita akan tetap teguh di dalam Dia. Pengalaman seperti ini justru akan membuat iman kita bertumbuh terus untuk menuju pada ketenangan yang tidak bisa direbut, dan akhirnya kita tahu bahwa Allah belum pernah terlalu lambat dan belum pernah salah.

 

Jumat

Iman memberi kekuatan

Ibrani 11: 32-40

Karena iman para tokoh Alkitab sanggup melakukan sesuatu yang luar biasa. Tokoh-tokoh Alkitab seperti Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud, Samuel dan para nabi bisa menaklukkan kerajaan-kerajaan, menutup mulut singa-singa, memiliki kekuatan yang besar untuk berperang, sanggup mengamalkan kebenaran, dan beroleh kekuatan dalam kelemahan karena mereka bertindak atas dasar iman mereka. Kuasa iman akan mengalir di saat kita mulai bertindak!

Karena iman banyak orang sanggup bertahan dalam penderitaan. Iman membuat orang bisa mengalami mukjizat, tetapi juga menyanggupkan seseorang bertahan melawati penderitaan jasmani yang dialaminya. Iman mampu memberikan kekuatan untuk melewati penderitaan karena dalam iman selalu tersedia pengharapan yang didasarkan pada janji Allah yang kekal. Iman memampukan kita untuk bisa  melihat masa depan di tengah kegelapan masa kini. Iman membuat kita tidak terpenjara dengan situasi masa kini, karena penglihatan kita tertuju kepada apa yang di depan, yaitu hadiah yang disediakan Allah bagi kita

 

Sabtu

Iman kepada Allah yang Setia

Mazmur 42:6

Horatio G. Spafford adalah seorang ahli hukum terkenal di Chicago. Pada tahun 1860-an, ia memiliki kehidupan keluarga yang bahagia. Kehidupan keluarganya mulai berubah dilanda duka ketika pada tahun 1870 anak laki-lakinya meninggal dunia karena demam berdarah. Tidak cukup sampai disitu, musibah kebakaran besar di Chicago 1871 turut melenyapkan semua properti miliknya. Puncak dukanya terjadi pada tahun 1873, isteri dan semua anak-anaknya pergi berlayar, namun tak disangka, kapal yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Isterinya mengabarkan Horatio melalui telegram dengan dua kata, ‘saved alone’ (hanya aku yang selamat). Lewat peristiwa tersebut, Horatio menuliskan sebuah lagu dengan lirik, “It is well with my soul”. Di tengah derita, kesukaran yang dialaminya, ia tetap dapat merasakan kasih Tuhan. “Sekalipun duka menggulung bak samudera,“ tulisnya, “….Tetaplah tenteram dalam jiwaku”. Di tengah persoalan hidupnya, dia tetap merindukan dan mencari Allah.

Pemazmur juga menuliskan kerinduannya kepada Tuhan, tatkala badai hidup menerpanya. Penantiannya akan kehadiran Tuhan membuktikan bahwa kasihnya kepada Tuhan tidak berhenti meskipun dalam keadaan yang sulit. Sebagai orang percaya, terkadang Tuhan mengijinkan kita berada dalam pergumulan yang berat. Disaat seperti itu, terkadang kita merasa putus asa bahkan ingin meninggalkan Tuhan. Mari ingatlah akan hal ini, bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang setia. Ia tidak pernah merencanakan yang jahat bagi kita

 

Minggu

“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Matius 14:22-24

Yesus memberi perintah kepada para murid untuk menyeberang namun sebelum perahu tiba di seberang danau tiba-tiba datanglah angin sakal. Kadangkala antara perintah Tuhan untuk “pergilah” dan “tibalah dengan selamat” di seberang di tengah perjalanan bisa saja terjadi datangnya “angin sakal.” Para murid barusan saja melihat Yesus memberi makan 5000 orang laki-laki tidak termasuk perempuan dan anak-anak hanya dengan 5 ketul roti dan 2 ekor ikan; sisanya 12 bakul. Bukankah seharusnya iman mereka telah dikuatkan dan siap menghadapi apa pun? Mereka semuanya lupa akan mujizat yang luar biasa itu, ketika ketakutan datang dan masuk ke dalam hati mereka sekali pun Yesus telah berpesan bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan di seberang danau itu.

Mereka lupa akan kuasa-Nya yang bekerja melakukan mujizat dan janji-Nya untuk ketemu di seberang sana. Mengapa? Karena ketakutan dan kebingungan telah masuk dan menguasai hidup mereka. Apabila Tuhan tidak menenangkan ‘badai’ kehidupan Anda, maka Dia pasti hadir di tengah-tengah badai kehidupan Anda. Hadirat-Nya itu pasti akan menenangkan hati Anda. Hadirat-Nya itu pasti akan memberikan Anda keberanian untuk melangkah keluar dari perahu Anda dan berjalan di atas badai dengan iman yang teguh.

Penulis : Ev. Albert S.Wanasida

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2018/09/18/iman-yang-teguh">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram