PERLINDUNGAN YANG TEGUH

Renungan Minggu Ke- 1, Oktober 2018

Perlindungan yang Teguh

Mazmur 27:5

 

Senin, Tuhan beserta kita

Mazmur 118:8, 2 Taw 32:7-8

Saat-saat seperti ini, ketika bencana alam gempa bumi dan tsunami hadir, semua itu seraya mengingatkan kita kembali akan Tuhan yang maha Kuasa, dan Dia yang berdaulat atas semesta. Pemazmur dengan jelas berkata: “Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia”.  Sehebat apapun BMKG meramalkan bencana alam, banyak hal yang masih belum bisa di prediksi dengan tepat, bahkan di negara maju seperti Jepang sekalipun. Jelas sekali lebih baik berlindung dan percaya pada TUHAN dalam segala aspek hidup kita.

Setiap kita pasti memiliki tantangan, serangan dan masalah masing-masing, mulai dari kendala di studi, pekerjaan, jodoh, kesehatan, keuangan, dan lainnya. Namun apapun itu “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!  Janganlah takut dan terkejut …, karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia.  Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita  adalah TUHAN, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.”  Datang padaNYA berlindunglah ke pada gunung batu yang teguh, tempat berlindung,  perisai,  tanduk keselamatan, kota benteng, tempat pelarian, juruselamat. Selamat berlindung padaNYA! Sang Immanuel.

 

Selasa, Perlindungan Teguh

Mazmur 27:5, Yeremia 36:26

Kehidupan manusia membutuhkan yang namanya rasa aman, dan ini adalah kebutuhan mendasar setelah makan dan minum menurut Abraham Maslow. Di dunia ini, setiap hari ada peristiwa yang mungkin membuat kita tidak aman dan merasa takut. Deposito, tabungan, harta tidak akan membuat kita aman dan semua bisa saja hilang dalam waktu yang singkat. Hari-hari ini mari renungkanlah apa yang membuat kita merasa aman, mari temukan jawabannya.

Pemazmur, yaitu Daud menyatakan bahwa Ia aman karena “Jika Allah adalah keselamatanku, Ia akan melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya. Dia akan membawaku keluar dari marabahaya dan memampukanku untuk tidak takut terhadapnya.” Allah tidak saja akan menyediakan naungan bagi umat-Nya yang sedang berada dalam kesesakan, Dia sendiri bahkan akan menjadi tempat persembunyian bagi mereka. Pemeliharaan-Nya mampu menyelamatkan mereka. Setidaknya, kasih karunia-Nya akan membuat mereka merasa tenang. Nama-Nya adalah menara yang kuat, yang ke dalamnya mereka dapat berlari masuk dengan iman “Dia menyembunyikan aku, bukan di kubu-kubu gunung di En-gedi, melainkan dalam persembunyian di kemah-Nya.

 

Rabu, Gunung Batu

Mazmur 61:1-5

Tuhan adalah gunung batu yang menjadi dasar teguh bagi pengharapan kita. Bahkan, kita akan diangkat ke atas gunung batu yang tinggi, di mana ombak yang menggulung dari lautan yang bergejolak tidak akan dapat menyentuh kita. Tempat itu merupakan gunung batu yang terlalu tinggi bagi kita. Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu; tuntunlah aku ke gunung batu yang terlalu tinggi bagiku. Disitu kita akan melihat banyak hal dengan perspektif yang lebih luas dan berbeda serta keyakinan teguh akan perlindungan Allah.

Hadirat Allah yang penuh damai, kuasa-Nya, janji-Nya, kesediaan-Nya dalam mendengarkan doa kita, kesaksian Roh-Nya di dalam hati umat-Nya – semuanya ini merupakan persembunyian di kemah-Nya, dan di dalam semuanya ini orang-orang kudus mendapatkan jaminan keselamatan dan ketenangan pikiran di mana mereka dapat berdiam dengan nyaman di dalamnya. Itulah yang mengangkat mereka ke atas gunung batu yang tidak akan terperosok. Mari kita senantiasa berharap hanya kepada Tuhan, semua yang lain bisa bergoncang, manusia bisa berdusta dan menghianati kita. Berbahagialah yang berharap hanya kepada Tuhan.

 

Kamis, Diam di rumah Tuhan

Mazmur 27:4

Ayat ini seringkali kita nyanyikan dan memang adalah kerinduan semua kita sebagai anak-anakNYA. Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. Daud ingin berdiam di rumah Tuhan supaya di sana dia aman dari kepungan para musuh. Saat mendapati dirinya dikelilingi oleh pasukan yang mengancam nyawanya, dia tidak lantas berkata, “Satu hal telah kuminta, demi keselamatan nyawaku, agar pasukanku bertambah banyak,” atau supaya aku dapat menguasai kota itu atau benteng ini, melainkan “supaya aku dapat diam di rumah TUHAN, dan aku akan baik-baik saja.”

Perhatikanlah Apa yang diinginkannya Daud– diam di rumah Tuhan. Para imam tinggal di pelataran rumah Allah, dan Daud berharap dia juga merupakan salah satu dari mereka. Berbeda dengan sebagian orang yang meremehkan hamba-hamba Allah, salah seorang raja yang terhebat dan terbaik malah ingin ambil bagian di dalam jabatan itu dan tinggal di antara mereka. Atau lebih tepat lagi, dia ingin supaya dia selalu tekun dan rajin menghadiri ibadah bersama-sama orang Israel lainnya yang setia, sesuai dengan kewajiban yang harus ditunaikan setiap hari. Dia rindu untuk melihat akhir dari peperangan yang kini tengah ia geluti, bukan supaya dia dapat hidup dengan nyaman di dalam istananya, tetapi supaya dia bebas dan leluasa menghadiri ibadah di pelataran Allah.

 

Jumat, Tidak menyendiri

Mazmur 84:1-7, Amsal 18:1

Firman Tuhan mengingatkan dengan jelas untuk kita berkumpul dengan saudara-saudari seiman dan tidak menjadi orang yang menyendiri, dalam Amsal bahkan di katakan: Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan. Namun mari kita diam di rumah Tuhan, karena di katakan dengan jelas berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu , yang terus-menerus memuji-muji Engkau.

Tuhan berfirman tempat yang paling aman adalah tinggal dalam kemahNya, tinggal dalam pondoknya. Ketika bencana datang Tuhan menyembunyikan dan melindungi umatNya. Di bumi ini, hanya pondokNyalah tempat yang paling aman. Untuk setiap umatNya tinggal dalam pondokNya maka dibutuhkan untuk tertanam, komitmen di Gereja lokal/komunitas sehingga kita  terus bertumbuh secara rohani, dibutuhkan tindakan untuk berfungsi dalam pelayanan bersama anggota tubuh yang lain, dibutuhkan proses pembentukan sehingga setiap kita semakin dewasa dalam Dia, mari kekasih Tuhan, jadilah tinggal dalam pondokNya dan alami perlindunganNya.

 

Sabtu, Bernyanyi dan bersorak di rumahNya

Mazmur 27:6, 2 Raj. 11:3

Yoas, salah seorang keturunan Daud, disembunyikan di rumah Tuhan selama enam tahun, di sana dia bukan saja terlindung dari pedang, tetapi juga dijagai hingga mencapai takhta. Bait Suci juga dianggap tempat yang aman bagi Nehemia untuk menyingkir. Akan tetapi, perlu diingat bahwa keselamatan orang-orang percaya bukan terletak pada tembok-tembok Bait Suci, melainkan di dalam Allah yang mendiami Bait Suci itu, dan penghiburan mereka terletak di dalam persekutuan dengan Dia. Dimana kita menyatakan doa dan harap dalam nyanyian, bahkan dalam sorak sukacita kemenangan karena Allah yang berperang ganti kita.

Di sana kita bergembira dan bersukaria: di sana kita hendak mempersembahkan korban dengan sorak-sorai, sebab sukacita mengerjakan pekerjaan Allah adalah imbalan bagi kita. Di sanalah kita mau menyanyi dan bermazmur bagi Tuhan. Dan, saat kita datang kepada Allah dalam ibadah suci, kita harus datang dengan segala sukacita dan puji-pujian. Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur  bagi TUHAN. Kita harus bernyanyi bagi kemuliaan Allah, dan saat Allah mengangkat kita melampaui musuh-musuh kita, kita haruslah meninggikan-Nya melalui puji-pujian. Tetapi syukur bagi Allah, yang selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya.

 

Minggu, Aman dalam perlindungan Allah

Mazmur 27, 2 Sam. 21:16-17

Ada yang berpendapat bahwa Daud menorehkan Mazmur 27 ini sebelum dia naik takhta, pada saat dia masih bergelut dengan segenap kesukarannya dan mungkin juga saat kematian orangtuanya. Akan tetapi, menurut keyakinan orang Yahudi, mazmur ini dituliskan saat dia sudah tua, waktu dia diselamatkan secara ajaib dari sabetan pedang sang raksasa, pada waktu Abisai menolongnya. Saat itu rakyatnya pun memohon dengan sangat supaya dia tidak pernah lagi mempertaruhkan nyawanya di medan peperangan, kalau tidak padamlah pelita Israel.

Tetapi, apapun tafsiran kala mazmur tersebut di tuliskan, menurut Matthew Henry di sini terdapat beberapa hal penting yang kita dapat pelajari. Yakni: Kebesaran hati dan keberanian kudus dari iman Daud (ay. 1-3). Kepuasan yang diperolehnya melalui persekutuan dengan Allah dan berkat yang dialaminya dalam persekutuan itu (ay. 4-6). Hasratnya akan Allah, akan kebaikan dan anugerah-Nya (ay. 7-9, 11-12). Harapan-harapannya dari Allah dan dorongan yang dia berikan kepada orang lain untuk berharap kepada-Nya juga (ay. 10, 13-14).

 

Penulis : Bp Albert S. Wanasida

(sumber: https://alkitab.sabda.org)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2018/10/09/perlindungan-yang-teguh">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram