MENGATASI MUSUH

Renungan Minggu Ke-4, Januari 2019

MENGATASI MUSUH

Ayat hafalan : Kejadian 14:19-20

 

Senin – Sesungguhnya Manusia Sanggup Mengalahkan Musuh (Kejadian 1:26)

Allah menciptakan manusia dengan kemampuan tersembunyi yang berasal dari Allah. Apakah itu? Kekuatan yang atau kemampuan yang Tuhan berikan adalah kekuatan untuk berkuasa atau memiliki kekuasaan (To have dominion). Untuk apa kuasa tersebut diberikan kepada manusia? Yakni untuk menata, mengelola semua makhluk hidup yang disebut hewan. Kata berkuasa di sini bertujuan untuk membuat menjadi lebih baik atau menuju kesempurnaan. Cara pandang ini akan menolong setiap orang yang menyadari bahwa dirinya telah menerika “kuasa” untuk mengalahkan semua bentuk bibit atau benih penghalang tumbuhnya kesempurnaan.

Kekuatan “kuasa” adalah menghentikan semua bentuk impotensial, yakni kemandulan diri, lebih tepatnya ketidakberdayaan untuk memperbaiki diri atau keadaan sekitar. Mengatasi ketidakberdayaan diri adalah sama saja sebagai tindakan mengatasi musuh di dalam diri. Impotensial diri terjadi karena cara pandang yang salah tentang jati diri. Tuhan telah memberikan jati diri yang sempurna untuk manusia yakni Keserupaan atau Segambar dengan Allah. Ketika manusia menyadari akan hal ini maka semua bentuk impotensial atau musuh diri , dapat diatasi bahkan dilepaskan secara mutlak. Alhasil tangga menuju kesempurnaan hidup yakni kehidupan yang selalu mengalahkan musuh, bisa tercapai dengan maksimal.

Anda adalah penguasa untuk mengalahkan semua bentuk kelemahan, maka Anda layak menerima kemenangan sepanjang masa.

 

Selasa – Berkat Menyertai Perjuangan (Kejadian 14:19-20)

 Lalu ia memberkati Abram, katanya: “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.(Kej 14:19-20)

Dalam kitab Kejadian 14, Allah sedang mengajarkan kepada bangsa Israel, apakah arti satu panggilan hidup. Tuhan memanggil seorang yang sudah tua bernama Abram (kemudian berganti nama menjadi Abraham) untuk menjadi Bapa bagi Banyak Bangsa. Panggilan Tuhan sangat kuat dan bertujuan bagi kepentingan Allah. Kepentingan Allah adalah supaya Dia membuat jembatan penghubung antara manusia yang berdosa dengan Allah Sang Pengampun. Jembatan itu adalah kasih Allah. Ketika Abraham meresponi panggilan Tuhan, maka ada penyertaan dan kekuatan Ilahi di dalam diri Abraham. Keberhasilan Abraham mengalahkan Raja Kedorlaomer, sebagai kerajaan yang sulit dikalahkan oleh berbagai Kerajaan pada zaman itu, semata-mata bukan saja mengembalikan keponakan dan sanak saudara Abraham serta harta kekayaan yang dicuri oleh Kedorlaomer, tetapi satu bukti bahwa Tuhan menyertai Abraham untuk merealisasikan panggilan Tuhan untuk Abraham.

Berkat panggilan hidup akan menolong setiap orang yang percaya kepada Tuhan secara konsisten, untuk menumpas habis semua bentu  musuh. Iblis memang selalu merencanakan kegagalan untuk anak-anak Tuhan, tetapi kekuatan panggilan Tuhan tidak bisa digoyahkan apalagi diruntuhkan oleh semua bentuk kekuatan musuh. Yang terpenting, adakah hati kita tetap percaya kepada Tuhan di kala guncangan hidup atau badai persoalan menerpa?

Tetaplah fokus untuk apa Anda hidup, tatkala badai persoalan atau berkat melimpah Anda terima.

 

Rabu  – Mentalitas Lebih dari Pemenang sebagai Bekal Sekolah padan Gurun (Ul 8:11-18)

Tidak akan ada mentalitas pemenang jika tidak ada kesulitan, tantangan dan masalah kehidupan.

Banyak orang yang berpendapat bahwa padang gurun dalam Alkitab berbicara tentang kesusahan, penderitaan dan tempat untuk menebus dosa. Ini tidak benar.

Padang gurun yang dilewati bangsa Israel bukan karena kesalahan mereka melainkan karena pimpinan Tuhan. Ulangan 8:11-18 berkata bahwa Tuhan membawa bangsa Israel melewati padang gurun untuk “berbuat baik kepadamu akhirnya” (ayat 16). Untuk membawa bangsa Israel lepas dari perbudakan bangsa Mesir dan mewarisi Tanah Perjanjiaan, yang subur dan limpah dengan susu dan madu! “Akhir suatu hal lebih baik dari awalnya,” Pengkhotbah 7:8a berkata. Jangan menilai sesuatu dari awal atau pertengahan jalan waktu Tuhan sedang memproses kita. Jangan menilai padang gurun dengan ‘ular dan kalajengkingnya’. Sebaliknya di padang gurunlah Tuhan banyak menunjukan mujizat-mujizat yang luar biasa: roti manna, tiang awan dan tiang api, air yang keluar dari gunung batu yang keras, baju yang tidak rusak dan kaki yang tidak menjadi bengkak selama 40 tahun, kemenangan demi kemenangan atas peperangan, dan masih banyak lagi.

Tuhan mengajarkan anak-anakNya dengan cara yang keras agar anak-anakNya selalu bergantung pada Tuhan dan firmanNya. Cara berpikir rohani menjadi satu-satunya cara untuk membangun mentalitas lebih dari pemenang karena Tuhan Yesus telah menjadi pemenang atas dosa dan Dia telah diberikan Bapa kepada umatNya. Cara pandang rohani sebagai seorang lebih dari pemenang akan membentuk hati pejuang dan tindakan pejuang dalam setiap kesempatan pengujian hati dan cara berpikir kita. Padang gurun bisa terjadi di dalam rumah tangga kita, sekolah, karir/bisnis dan kehidupan bermasyarakat dari setiap kita.

Jangan mengelak ketika musim padang gurun tiba, masuklah dan selalu percaya adanya Tuhan bersama anda!

 

Kamis – KEPERCAYAAN SEMU (Matius 4:1-10)

Mari kita simak pembacaan Nats di atas. Ada 3 kepercayaan semu yang iblis tawarkan kepada Yesus, yakni

  1. “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”

Ini adalah pendapat umum yang menjadi konsep hidup manusia. Hidup bukan untuk makan, tetapi

untuk mendukung kehidupan manusia. Dan tenaga kehidupan yang sejati adalah Firman Tuhan.

  1. “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia

    akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya,

    supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”

Argumentasi Yesus terhadap pernyataan ini adalah “Jangan engkau mencobai Tuhan Allah”.

Kebodohan tanpa pengetahuan firman akan membawa manusia pada satu pengujian hidup yang

emosional dan nekat. Iblis adalah wujud kebodohan itu. Hati-hati dengan keyakinan ada pertolongan

Tuhan sementara kita bertindak bodoh.

  1.  “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.”

Apakah ada pribadi yang lebih besar dan hebat selain Yesus Kristus di bumi? Kepercayaan yang semua

mengajarkan bahwa kesuksesan adalah karya Allah dan usaha manusia. Sepertinya pernyataan yang

umum ini benar dan baik. Tetapi jika kita mau konsekuen terhadap kebenaran Allah yang absolute,

maka itu adalah tipuan. Seharusnya , kesuksesan adalah karya sepenuhnya dari Allah. Manusia sebagai

pribadi yang diberikan talenta untuk meraih kesuksesan tersebut.

Kepercayaan semua adalah asumsi atau anggapan yang akhirnya menjadi persepsi dan pola pikir keliru. Tanpa disadari informasi yang diterima dan pengalaman yang berkesan mendalam akan tertanam di memori otak manusia. Lama kelamaan akan mengendap dan menghasilkan suatu nilai keyakinan yang palsu atau semu. Itulah yang menjadi musuh utama manusia.

Pastikanlah kesuksesan yang telah Anda raih atau apa yang akan Anda raih, tidak berdasarkan kepercayaan yang semu. Jika Anda pernah gagal meraih sukses, mungkin Anda masih digerakkan oleh kepercayaan semua.

 

Jumat – Mengalahan 3 Kepercayaan semu (2 Kor 10:5)

Mengalahkan musuh adalah mengalahkan kepercayaan yang semu. Ada 3 kepercayaan semu yang dapat menjerat manusia , yakni

  1. Nilai-nilai yang keliru

Nilai diri adalah satu norma atau nilai moral pribadi yang terhadapnya seseorang tidak berkeinginan untuk menyelewengkannya. Manusia hidup bermasyarakat dengan banyak ragam nilai kehidupan, yang bersifat membangun maupun merusak ada di dalam kehidupan manusia. Mungkin Anda pernah mendengar satu pernyataan “I hate Monday” (Aku benci hari Senin). Pernyataan ini menjadi anggapan bahwa pekerjaan sebagai beban dan hal yang memberatkan. Akibatnya hari senin selalu dirasakan lebih melelahkan dan membosankan. Bagaimana dengan nilai-nilai diri Anda?

  1. Linkungan yang tidak tepat

Moto “Siapa kuat dia menang” adalah sama artinya dengan Hukum Rimba. Ukuran keberhasilan yang didasarkan pada keangkuhan diri akan membesarkan seseorang menjadi penjahat atau pengganggu bagi orang lain. Kekayaan yang menjadi pusat pengandalan tindakan member tanpa belas kasihan, hanya aksi yang bersifat terbatas. Dimanakah kita dibesarkan? Siapakah pengasuh hidup kita sejak kecil dan saat ini adalah lingkungan yang bisa memberikan dampak positif dan negatif bagi pertumbuhan daya tangkis diri terhadap semua bentuk musuh.Bagaimana dengan Anda?

  1. Pikiran yang dibutakan

Dalam keadaan kalut dan bingung, sering kali kita kehilangan akal sehat. Kita tidak dapat berpikir jernih dan sulit menerima fakta atau kenyataan. Akibatnya muncul kecenderungan bertindak secara emosional dan sering dianggap tidak  masuk akal. Semua ini bersumber dari pikiran yang keliru yakni pikiran benar yang dikalahkan dengan pikiran yang salah atau keliru. Bagaimana dengan Anda?

 

Sabtu – Melayani di atas Janji Tuhan (2 Tim 4:6-7)

Seorang pemenang adalah seorang yang mengerti dan berpegang kuat pada setiap perkataan dan janji Tuhan serta melakukannya dengan kesetiaan. Pemenang dalam Kristus bukan sekedar mencapai garis akhir kehidupannya tetapi juga hidup secara konsisten dalam iman yang dimilikinya sampai akhir hidupnya.

Namaku Imelda Saputra, aku seorang penulis. Sebenarnya dulu aku tidak pernah berpikir akan menjadi seorang penulis, namun inilah cara Tuhan memakai aku menjadi penanya untuk. Aku terlahir sebagai anak normal, namun saat aku masih balita orangtuaku menemukan sebuah benjolan di punggungku. Ternyata saraf kaki kusut di benjolan tersebut. Dokter menyarankan untuk operasi, tetapi ketika operasi dilakukan ternyata ada efek samping yang terjadi, yakni kakiku bengkok dan menciut. Akhirnya aku tidak pernah bisa berjalan, aku lumpuh.  Orangtuaku melakukan berbagai upaya agar aku bisa berjalan lagi, mulai dengan ke dokter, tukang urut hingga ke dukun. Tapi usaha yang dilakukan oleh orangtuaku selama bertahun-tahun sia-sia belaka, aku pun telah lelah dan hampir putus asa. Karena anugrah Tuhan, aku bisa sekolah di sekolah umum sekalipun aku cacat dan harus menggunakan kursi roda. Kadang memang ada orang yang memandangku dengan aneh karena keadaanku. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, suatu hari aku jatuh pingsan karena tidak tahan lagi dengan sakitku. Dokter memvonisku dengan penyakit dekubistus dan juga tipes akut sehingga aku harus di rawat di rumah sakit. Mulai bulan Mei di tahun itu, aku berhenti sekolah. Aku tertekan dan putus asa karena aku tidak bisa melakukan apa-apa.

 Namun ketika aku mendengar kesaksian seorang perawat yang sakit disembuhkan, semangatku bangkit kembali. hamba Tuhan itu berdoa untukku, saat itu Tuhan menyampaikan isi hati-Nya kepadaku melalui hamba Tuhan itu. Salah satunya adalah:

“Kamu akan nulis buku, kamu akan Tuhan pakai jadi penanya Tuhan.”

Sempat aku merasakan keraguan, “Bener nih Tuhan?”

Tapi saat itu juga Tuhan berbicara, “Aku yang akan melakukannya, bukan kamu.”Selama beberapa tahun aku hanya menulis, tanpa ada tanda-tanda janji Tuhan itu terwujud. Hingga tiba di tahun 2008, sebuah penerbit menghubungiku.

“Imelda, bukunya di terima ya, kami terbitkan.”

 

Minggu – Fokus pada Tuhan, bukan kemenangannya (Filipi 3:12-16)

Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi yang bertemakan tentang Fokus pada Kristus.

Yang kukendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, (Fil 3:10)

Fokus kepada Kristus digambarkan sebagai pengalihan pandangan kita dari masa lalu dan melupakannya kepada masa depan dengan totalitas hidup. Ekspresi totalitas hidup adalah mengarahkan pandangan kepada janji Tuhan dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Fil 3:14). Fokus nya bukan pada hasil tetapi pada tujuan hidup. Pejuang iman adalah seorang yang tidak  pernah memiliki motivasi untuk mendapatkan hadiah, tetapi tujuan kekal yakni mendapatkan panggilan surgawi.

Jadi jikalau kita sedang menghadapi permasalahan yang pelik dan rintanga yang banyak, maka yang harus menjadi fokus perhatian kita adalah Kristus telah menyediakan panggilanNya untuk kita. Ketika kita fokus pada panggilan, maka secara otomatis kemenangan sudah kita peroleh secara langsung. Yusuf anak Yakub, Musa, Yosua, Nehemia, Paulus dan Petrus adalah orag-orang hebat dan berhasil dalam hidupnya. Kuncinya adalah mereka hidup di dalam firman dan janji Tuhan. Fokus mereka adalah firman Tuhan, bukan upah dari hidup dalam firman. Mereka taat tanpa berpikir upah demi Tuhan dipermuliakan dan dikenal oleh banyak orang di bumi

Fokuslah pada Tuhan, bukan pada upahnya.

 Penulis : Pdt.  Santoso Hutabarat, S.Si

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2019/01/30/mengatasi-musuh">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram