Renungan Minggu Pertama

Bulan Februari 2019

 

Pengenalan yang Mulia

Bilangan 24:16

Senin

Nyamanlah jiwaku (It is Well with My Soul)

Ayub 42:2-6
Sulit membayangkan, ketika kehidupan sepertinya begitu sempurna. Kita memiliki keluarga bahagia dengan lima anak. Tuhan pun memberkati karier dan usaha kita. Namun, tiba-tiba saja penyakit merenggut anak laki-laki kita. Lalu, di tahun yang sama, kebakaran besar melahap bisnis kita dan kita hampir bangkrut. Bukan hanya itu, dua tahun kemudian, kita kehilangan semua anak kita dalam kecelakaan laut. Mungkin kita berpikir, tragedi besar seperti itu hanya bisa menimpa Ayub. Namun, ini adalah kisah nyata yang terjadi sekitar satu setengah abad yang lalu pada pria bernama Horatio Spafford. Dalam kesedihan yang menggulungnya bagai ombak lautan, ia menulis himne, “Meski iblis memukulku bertubi-tubi, meski pencobaan harus datang, biarlah jaminan-Nya mengambil alih. Kristus telah memperhatikan ketidakberdayaanku dan mencurahkan darah-Nya untuk jiwaku.”

 

Seperti Ayub, mungkin sebelumnya Horatio hanya mengetahui kalau Allah itu baik. Namun, saat tragedi besar terus menimpanya, ia tidak menutup pintu hatinya bagi Tuhan. Ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kenestapaan ataupun kemarahan. Ia tetap mengingat karya Kristus di atas kayu salib dan memuliakan Tuhan dengan jiwanya. Tuhan pun menunjukkan kasih setia-Nya dan membawa Horatio kepada level pengenalan Allah yang lebih dalam. Sehingga ia boleh mengalami kedamaian, yang seperti sungai, mengaliri dan memenuhi hatinya. Pengalaman ilahi inilah yang tertuang nyata dalam barisan-barisan lirik “It is Well with My Soul”.

 

Selasa
Bertumbuh

Kol 1: 10

Pengenalan akan Allah penting pula bagi pertumbuhan kita. Di bagian pembukaan suratnya yang kedua, Rasul Petrus membicarakan hal yang sangat menentukan ini. Dia mendesak rekan-rekannya supaya bertumbuh secara rohani dan berharap agar mereka dilimpahi kasih karunia dan damai sejahtera “melalui pengenalan akan Allah.” Dia berkata kepada mereka bahwa kuasa Allah telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang kita perlukan untuk menjalani hidup ini sebagai orang Kristen, yaitu melalui pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.

Rasul Paulus juga mengemukakan hal yang sama ketika ia menulis surat kepada jemaat Kolose. Yaitu sehingga hidupmu layak  di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah. Bertumbuh, mempunyai kaitan khusus dengan “bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah”, mari kita trus bertumbuh semakin dewasa dalam TUHAN ditahun Pusaka Ilahi ini.

Rabu

Hening

1 Tes. 2:13

Kegaduhan di dunia ini dapat memudarkan suara Allah yang lembut. “Di manakah firman ditemukan, di manakah firman digemakan?” tanya penyair T. S. Eliot. “Tidak di sini, karena di sini kurang hening.” Keheningan bukan bicara hanya secara lahiriah, karena Allah bisa berbicara dalam badai, namun hening adalah dimana suara yang lain tidak lagi terdengar karena kita begitu asyik bersama Tuhan. Allah berbicara kepada kita setiap hari, memanggil kita di tengah kegelisahan dan kerinduan yang melanda jiwa kita. Dia memanggil kita di tengah dukacita kita yang mendalam maupun di tengah sukacita besar yang sesungguhnya tidak dapat sepenuhnya memuaskan kita.

Namun yang terutama, Allah berbicara kepada kita melalui firman-Nya. Ketika kita membuka Alkitab dan membacanya, kita juga akan mendengar suara-Nya. Dia mengasihi kita lebih daripada apa yang dapat kita bayangkan, dan Dia ingin kita mendengarkan apa yang hendak dikatakan-Nya. Kehidupan kita akan semakin indah ketika kita berjalan dalam pengenalan akan DIA, dituntun olehNya, bersamaNya dalam setiap waktu.

 

Kamis

Suara Tuhan

1 Sam 3:1-10

Bagaimana kita dapat mengenali suara Tuhan? Pertanyaan ini telah ditanyakan oleh begitu banyak orang, dari berbagai zaman. Samuel mendengar suara Allah namun tidak mengenalinya sampai dia diberi petunjuk oleh Eli. Gideon mendapatkan wahyu secara fisik dari Allah dan masih meragukan apa yang didengarnya sehingga dia meminta tanda, bukan sekali, tapi tiga kali. Ketika kita mendengarkan suara Allah, bagaimana kita tahu pasti bahwa Dialah yang berbicara? Pastinya, kita memiliki apa yang tidak dimiliki oleh Gideon dan Samuel, Alkitab yang lengkap, Firman Tuhan yang diinspirasikan, yang dapat kita baca, pelajari dan renungkan. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”.

Apakah kita memiliki pertanyaan yang menggelisahkan atau sedang bingung mengambil keputusan dalam hidup? Lihat apa yang dikatakan Alkitab mengenai hal itu. Allah tidak akan pernah menuntun dan mengarahkan kita dengan cara yang bertentangan dengan apa yang diajarkan atau dijanjikan dalam FirmanNya. Dan semakin hari kita membaca dan merenungkan serta menghidupi FirmanNya, kita akan semakin peka mendengar dan membedakan suara Allah dari suara lainnya.

Jumat

Domba dan gembala

Yohanes 10:27-28

Di Israel, mencari rumput bukanlah hal yang mudah karena kondisi tanahnya yang berbatu, hal ini membuat para gembala harus lebih aktif. Judith Fain saat mengambil gelar Ph.D dari Universitas Durham melakukan penyelidikan tentang cara orang Israel menggembalakan dombanya. Dia menghabiskan waktu beberapa bulan di Israel. Suatu hari Judith menjumpai tiga orang penggembala domba dengan kelompok domba-dombanya bertemu di sebuah jalan dekat kota Yerusalem. Tiga orang penggembala itu berbincang sejenak, saat mereka berbincang, domba-domba gembalaan mereka bercampur baur menjadi sebuah kelompok besar. Judith begitu tertarik ingin tahu bagaimana tiga gembala itu memisahkan domba milik mereka satu sama lain, jadi dia menunggu sampai ketiga orang itu berpisah. Dia begitu tertegun saat melihat gembala-gembala itu memanggil domba-dombanya. Saat mendengarkan suara gembala-gembala itu, seperti sebuah keajaiban, para domba itu memisahkan diri dari kelompok besar itu dan mengikuti gembalanya masing-masing.

Cara seorang gembala membuat domba itu bisa mengikutinya adalah ia memberi makan domba itu dari tangannya, ia membuat kedekatan dengan domba-dombanya, berbicara kepada mereka sehingga domba-domba itu mengenali suaranya dan menaruh kepercayaan kepadanya. Jadi ketika gembala itu berjalan di depan domba-dombanya, mereka mengikuti dia karena mereka percaya bahwa gembala mereka akan menuntun mereka untuk mendapatkan makanan dan minuman. Hari ini, sudahkah kita memiliki sikap hati seperti seekor domba yang memiliki pendengaran yang peka akan suara Tuhan? Sudahkan kita percaya sepenuhnya kepada Tuhan bahwa Dia akan menjaga dan memelihara kita sepenuhnya?

 

Sabtu

Berubahlah oleh pembaharuan budimu

Roma 12:2

Bagaimana caranya kita bisa mendengar suara Tuhan? Latihan! Kita bisa jadi sebetulnya sudah bisa mendengar suara Tuhan, hanya saja kita tidak mengerti atau tidak tahu bahwa ternyata itu suara Tuhan. Sediakanlah waktu menyendiri dengan Tuhan, siapkan alat tulis dan kertas atau handphone kita. Mintalah Tuhan untuk berbicara, nanti-nantikanlah Tuhan. Roh Tuhan akan mulai berbicara menyingkapkan setiap hal yang kita perlukan untuk hidup berkenan kepadaNya, bisa teguran, arahan atau apapun yang di kehendakiNya, agar kita berubah melalui pembaharuan budi. Tuliskanlah semua itu.

Berbicaralah kepada Tuhan setiap hari. Tuhan Yesus adalah pribadi yang rindu menjalin hubungan dengan setiap kita. Setiap kali kita mendengar suara yang kita yakini adalah suara Tuhan, cek kembali dengan kebenaran Firman Tuhan. Inilah pentingnya kita membaca Alkitab setiap hari. Terpenting dari semuanya adalah ketaatan kita dalam melakukan apa yang Tuhan katakan. Tanpa ketaatan, kepekaan kita dalam mendengar suara Tuhan menjadi sia-sia karena tidak akan membawa pertumbuhan rohani apapun. Dan inilah waktunya ditahun Pusaka Ilahi untuk menjadi pelaku FirmanNya lebih lagi.

 

Minggu

Inisiatif Tuhan

Mazmur 32:8-9

Salah satu kerinduan terbesar yang mendorong orang-orang Kristen untuk belajar mengenal suara Tuhan adalah mengenal kehendak Allah. Kita merindukan bimbingan-Nya dalam setiap langkah hidup kita, yang memang seharusnya demikian. Dan sesungguhnya Dia terlebih rindu untuk kita mengenal suaraNya. Tuhan berfirman kepada kita, “Aku hendak mengejar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang ….”

Ia ingin agar kita begitu dekat dengan dia sehingga kita segera dapat mengenal kerinduan-Nya. Ia ingin agar pusat perhatian kita tertuju kepada-Nya sehingga gerakan mata-Nya saja cukup untuk membimbing kita seperti seorang membimbing seekor kuda, dengan tali les di mulut, yang membuatnya sakit bila ia tidak taat atau kekang yang menyingkirkan semua pilihan lainnya. Ia ingin membimbing supaya kita menggenapi kehendak Tuhan pada jaman kita dan menjadi serupa dengan gambaran anakNya.

 

Penulis : Albert Surya Wanasida

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2019/02/06/1581">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram