DIAM SAJA

Renungan Sinode GKKD, Terbit 27 Mei 2019

Senin
Diam saja
Keluaran 14:14 (TB) TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

Kisah bangsa Israel yang sedang terjepit di antara dua masalah besar, di belakang Firaun mengejar mereka, di depan ada laut teberau yang sangat dalam, adalah gambaran situasi yang sering dihadapi oleh umatNya. Di tengah situasi itu mereka dapat jaminan bahwa Tuhan yang akan berperang bagi mereka, dan yang Tuhan minta adalah mereka harus diam, harus sepenuhnya percaya kepada Tuhan yaitu dengan mentaati apa yang Tuhan kehendaki . Diam dimulai dengan mengalihkan fokus kita dari masalah kepada Tuhan. Kemudian berjalan melewati laut teberau yang dimulai dengan Musa mengangkat tongkat Tuhan yang ada di tangan Musa. Diam bukan berarti masa bodoh dan tidak berbuat apa-apa, diam artinya sepenuhnya mempercayai janjiNya dan hidup tinggal dalam ketaatan dengan segenap hati kepada perintahNya, sehingga Tuhan di ijinkan sepenuhnya berkerja dalam situasi apapun.
Saudaraku,ijinkan Tuhan berkerja menyatakan mujizatNya dalam hidupmu dengan senantiasa “DIAM” dalam kepenuhan dan kehendakNya.

Selasa
Selesai dengan masa lalu
Filipi 3:13

Hal yang tidak mudah untuk bangsa Israel “diam” adalah ketika mereka melihat ke belakang ada pasukan yang mengejar mereka. Itu adalah kenyataan, bukan mimpi, tapi sesuatu yang sangat nyata dan dialami oleh mereka, suatu pasukan yang siap menghabisi mereka, tetapi Tuhan berkata “diam saja”. Pilihan bangsa Israel adalah tidak menoleh ke belakang, mereka harus terus melihat ke depan, menyaksikan mujizat yang Tuhan kerjakan, Tuhan sedang membuka jalan, dan dalam perjalanan mereka menyeberangi laut teberau pun, mereka tidak melihat kebelakang. Hampir lebih 2 juta orang yang melewati laut teberau tersebut, bisa dibayangkan jika mereka melihat ke belakang, ketakutan mulai menyelimuti mereka, kepanikan akan terjadi, dan tentulah kekacauan akan terjadi karena setiap orang akan saling mendahului untuk sampai di ujung laut teberau. Karena itu hal terpenting untuk kita dapat “diam saja” adalah dengan memastikan bahwa kita sudah selesai dengan masa lalu. Rasul Paulus berkata, “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku…”, bereskan dan lupakan masa lalu, pandanglah bahwa Tuhan sedang membuka jalan yang baru bagi hidup kita. Ingatlah, bereskan masa lalu, bukan hanya sekedar lupakan, karena melupakan tanpa membereskan, adalah sesuatu yang sia-sia, karena saudara akan mengingatnya kembali di hari kemudian.
Renungkanlah: adakah masa lalu saudara yang belum dibereskan? Luka hati, ganjalan, dosa tersembunyi, dll.

Rabu
Menyaksikan kemurahanNya
Fil 3:14, Mazmur 27:4

“…berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus…”, Rasul Paulus bukan hanya berkata lupakan yang telah lalu, tetapi juga mengarahkan pandangan ke depan, dan juga berlari kepada tujuan tersebut. Bangsa Israel terus fokus melihat ke depan, menyaksikan semua mujizat yang Tuhan kerjakan. Firman Tuhan katakan, mereka berjalan di tanah yang kering sedang di kiri kanan mereka air laut menjadi tembok bagi mereka (Kel 14:22). Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa, sambil berjalan melewati laut, mereka juga dimanjakan dengan pemandangan ekosistem laut yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Itulah kemurahan Tuhan, mujizatNya dan pekerjaanNya akan membuat kita terpukau dan terpesona. “Diam” juga berarti kita menikmati semua kemurahanNya, mengingat kembali segala kemurahanNya yang kita alami, akan membangkitkan dan menguatkan kepercayaan kita kepadaNya bahwa Dia, Allah yang setia yang tidak pernah meninggalkan hidup kita. Menikmati kemurahanNya akan membuat kita tidak fokus kepada masa lalu dan masalah kita, tapi fokus kepada keperkasaan Allah.
Renungkanlah: Mari catatlah dan ingatlah kembali segala kemurahanNya yang terjadi dalam hidup saudara dan bersyukurlah kepadaNya!

Kamis
Tinggal Tenang
Yesaya 30:15; Mazmur 73:28

“…Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu…” Dalam Firman Tuhan dikatakan bahwa kekuatan kita sesungguhnya adalah ketika kita menjadi tenang dan percaya. Tenang bukan karena melihat masalah selesai, tapi tenang karena kita dekat kepadaNya. Ketenangan dan kepercayaan Musa kepada Allah menjadi kunci sukses Musa membawa jutaan bangsa Israel menyeberangi laut teberau. Musa harusnya adalah orang yang paling panik karena melihat jalan buntu di depannya, bangsanya pasti akan menyalahkannya, dan mungkin namanya akan tercatat sebagai orang yang gagal, tetapi Musa lebih memilih untuk tenang dan percaya kepada Allah. Hal ini terlihat dari perkataan Musa kepada bangsa Israel, “…Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu…” (Kel 14:13), ketenangan dan kepercayaan Musa inilah, yang membuat dia dapat mendengar arahan Tuhan untuk mengangkat tongkatnya dan membelah laut teberau. Tanpa FirmanNya tidak ada sesuatupun yang terjadi, karena itu, “diam” yang kita lakukan adalah sampai kita menerima FirmanNya, dan dengan Firman itulah segala sesuatu yang ajaib akan terjadi.
Renungkanlah: bagaimana respon saudara selama ini ketika melihat jalan buntu?

Jumat
Menjaga Perkataan
Amsal 10:19, 18:21

“Diam” menurut KBBI adalah tidak bersuara (berbicara), sedangkan bersuara seringkali menunjukan respon awal kita menganggapi sesuatu hal. Karena itu penting sekali untuk menjaga perkataan kita, supaya kita tidak mengawali respon kita akan sesuatu masalah dengan salah. “Diam” sangat menolong kita, untuk kita dapat memperhatikan apa yang akan kita perkatakan. Amsal mengingatkan kita bahwa, “…Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi…”, kita harus bisa menjaga perkataan kita supaya tidak terjadi banyak pelanggaran. Bahkan kitab Amsal mengingatkan kita lebih jauh lagi, bahwa mati dan hidup dikuasai oleh lidah, dengan pengertian secara sederhana adalah bahwa dengan perkataan kita dapat menghadirkan ‘kehidupan’ (hal yang mebangkitkan) atau menghadirkan ‘kematian’ (hal yang melemahkan). Tuhan mau bangsa Israel diam, supaya tidak ada keluh kesah yang justru akan semakin menambah kepanikan dan kekacauan diantara mereka, “diam” menjadi jalan terbaik untuk kita mendisiplin lidah kita, supaya kita hanya memperkatakan hal-hal yang mengahdirkan kehidupan bagi kita dan banyak orang.
Renungkanlah: perkataan apa yang sering saudara ucapakan dalam meresponi sesuatu masalah?

Sabtu
Buang kekuatiran
Matius 6:27, Yeremia 17:5

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Ayat sederhana ini menjelaskan kepada kita, bahwa kekuatiran sama sekali tidak berguna, kekuatiran tidak menolong apapun, tapi kekuatiran akan melemahkan kepercayaan kita kepada Tuhan. “Diam” juga memiliki pengertian tenang dari segala kekuatiran, kecemasan dan ketakutan, yang semuanya dimulai dari pikiran kita. Karena itu Tuhan mau untuk kita sungguh-sungguh hanya mengandalkan Tuhan saja, bahkan Tuhan berkata, “”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”, kekuatiran timbul karena kita melihat tidak ada pertolongan yang datang, kita mengandalkan apa yang kita miliki dan apa yang kita lihat, tetapi Firman Tuhan secara tegas berkata, jangan andalkan itu semua, tetapi percayalah kepadaNya saja, karena pertolongan hanya datang dari padaNya. Kekuatiran adalah alarm bahwa kita sudah mulai mengandalkan kekuatan sendiri, karena itu “diamlah” jangan biarkan kekuatiran menguasai hidup kita.
Renungkanlah: aspek apakah dalam hidup saudara yang masih menjadi ketakutan dan kekuatiran dalam hidup mu?

Minggu
Hanya di Dalam Dia
Yohanes 15:5, Mazmur 127:1, 2Raja-raja 6:15-17

“…Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa…” Tidak ada sesuatupun yang dapat kita lakukan di luar Tuhan, kalaupun ada yang kita bisa lakukan, bahkan sepertinya itulah adalah hal yang sangat besar, tapi percayalah semuanya sia-sia jika dilakukan di luar Tuhan. “…Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga…”. Hanya di dalam Dialah semua yang kita lakukan menjadi berarti. Di dalam Dia kita dapat melihat apa yang tidak terlihat yang Tuhan sediakan. Bujang Elisa tidak melihat apa yang Elisa lihat sampai Elisa berdoa untuk membuka matanya, dan melihat bahwa pasukan yang menyertai mereka lebih banyak daripada pasukan aram yang mengepung mereka. “Diam” di luar Dia adalah sangat sia-sia, tetapi “diam” di dalam Dia, itu sangat dasyat, dan biarlah Tuhan terus mengerjakan pekerjaan-pekerjaanNya yang hebat dalam hidup kita, menerobos setiap penghalang, membuka jalan buntu, dan kita hanya akan “diam” saja menyaksikan manifestasi kedasyatanNya bagi orang-orang yang percaya dan yang berharap kepadaNya! Amin.

Penulis : Bp. Yongky Sannadi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2019/05/27/renungan-minggu-ke-4-mei-2019">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram