HIDUP KUDUS

Renungan Mingguan, Terbit 17 Juni 2019

_SinodeGKKD_

Yosua 7:10 (TB) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Bangunlah! Mengapa engkau sujud demikian?

  • Senin – HIDUP KUDUS
    Yosua 7:10

Kudus artinya dipisahkan atau dikhususkan, ketika umatNya menyadari sebagai umat Tuhan, maka mereka harus hidup kudus yaitu hidup sesuai dengan standarnya Tuhan, memiliki motivasi untuk Tuhan dan menggantungkan kekuatannya kepada Tuhan. Ketika umat Tuhan hidup dalam kekudusan, maka Tuhan akan leluasa utk bekerja dan ketika Tuhan bekerja, maka umatNya akan terus mengalami mujijatNya. Nats di atas adalah ketika bangsa Israel lari dari bangsa Ai dan berseru minta pertolongan dari Tuhan. Dalam proses mencari jawaban, mereka berseru kepada Tuhan. Tuhan meminta untuk bangun dan menyatakan kesalahan mereka, bahwa Akhan membiarkan barang tumpas yang di sembunyikan di antara mereka, karena itulah Tuhan meninggalkan mereka dan mereka menjadi kalah ketika berhadapan dengan Ai. Kekudusan menjadi kunci kemenangan Israel atas Ai. Kekudusan dimulai dari hati yang murni, terus mengalir ke jiwa sehingga dipenuhi damai sejahtera dan memiliki perilaku yang memuliakan Tuhan. Saudaraku buang mentalitas Akhan, dan hiduplah dalam kekudusan.

Selasa – PEMILIHAN TUHAN
Imamat 20:26

“Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku.” Tuhanlah yang memilih hidup kita, bukan kita yang memilih, Dia mememisahkan kita dari seluruh bangsa, supaya kita menjadi umatNya. Hal yang pertama dan yang seterusnya harus ada dalam hidup kita sebagai umatNya, adalah kekudusan. Pemilihan Tuhan atas hidup kita sebagai umatNya, dimulai dengan “…Kuduslah kamu bagi-Ku…”, karena itu kekudusan bukanlah sebuah pilihan, tapi itulah kehidupan sebagai umat pilihanNya. Kata kudus dari kata Kadosh (bahasa Ibrani) yang memiliki pengertian naik lebih tinggi, artinya Tuhan memanggil dan memisahkan kita dari berbagai bangsa untuk hidup sesuai dengan standar-Nya, level hidup yang naik ke arah Kristus, yaitu hidup sebagaimana Kristus hidup.

Rabu – MENGALAMI KEHADIRANNYA
Ibrani 12:14

Tuhan mau untuk kita terus hidup dalam kekudusan, bahkan kita mengejarnya, karena Tuhan ingin dekat dengan umatNya. “…kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan…” tanpa kekudusan tidak ada seorangpun yang dapat melihat Allah, supaya umatNya dapat bersekutu dengan Tuhan. Dalam Yesaya 59:2 dikatakan bahwa, “…tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu…” Dosa menjadi penghalang umatNya bersekutu dengan Tuhan. Jam doa, kegiatan rohani yang dilakukan, pelayanan menjadi tidak berarti tanpa kita hidup dalam kekudusan. Kekudusan membuat kita dari hari ke hari dapat menikmati kehadiranNya tanpa penghalang, dan pembatas apapun. Keintiman dengan Tuhan bukan sebuah perasaan emosi, tapi keintiman dengan Tuhan adalah sesuatu yang sangat ‘real’ kita rasakan dan nikmati.

Kamis – CERMIN KEMULIAANNYA
1 Petrus 1:14-16

“…hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu…” Kita adalah cermin kemuliaan Tuhan bagi dunia ini, artinya setiap orang ketika mereka melihat umatNya, mereka melihat gambaran Allah yang nyata dalam hidup kita. Dalam Kejadian 1:26, “…Berfirmanlah Allah: “…Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Tuhan menciptakan manusia menurut rupa dan gambarNya. Tidak ada cipataanNya yang lain yang diciptakan menurut rupa dan gambarNya, hanya manusia saja. Manusia menjadi gambaran Allah bagi dunia ini, sehingga dunia dapat melihat Allah ketika mereka melihat manusia. Namun semuanya menjadi sirna ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan (gambar) Allah, sehingga manusia tidak lagi menjadi representasi Tuhan di muka bumi ini. Karena itu, Dia panggil kita menjadi umatNya, memisahkan kita dari dunia ini, supaya kita kembali dapat merepresentasikan Tuhan bagi dunia ini. Dan hal yang tidak bisa ditawar untuk menjadi cerminan Tuhan bagi dunia ini adalah kekudusan. Karena itu, teruslah alami perubahan, terus hidup dalam kekudusan, bukan dengan kekuatan kita, tapi karena darahNya yang sudah melayakan kita.

Jumat – KEDIAMAN ALLAH
I Korintus 3:16

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Kita adalah bait Allah, tempat kediaman Allah. Karena kita ini adalah tempat kediaman dari Allah yang kudus, tentulah kita sebagai tempat kediamanNya pun harus kudus. Semua yang ada dalam tempat kediaman itu haruslah kudus, artinya seluruh aspek dalam hidup kita pun harus kudus. Semua harus mengikuti arahan dari sang pemilik tempat kediaman, baik dari bahan untuk tempat kediaman sampai kepada design interior pun harus mengikuti kehendak sang pemilik tempat kediaman tersebut. karena itulah paulus berkata, “…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku…” Kita tidak lagi berkuasa mengatur hidup kita, tapi Dialah yang berhak sepenuhnya mengatur hidup kita. Karena itu, kekudusan sekali lagi bukanlah pilihan, tapi adalah mutlak harus kita hidupi karena kita adalah tempat kediamanNya. Dia mau kita kudus, karena Dia Allah yang kudus.

Sabtu – ALAT KERAJAANNYA
2 Timotius 2:21

“…Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia…” Tuhan rindu untuk memakai setiap umatNya menjadi alat bagi kerajaanNya. Menjadi senjata kebenaran untuk menyatakan kemuliaanNya. Untuk menjadi alat kerajaanNya yang siap dipakai tentu harus dipersiapkan sedemikian rupa. Tuhan telah memanggil dan memilih kita, Dia menguduskan kita, supaya kita dapat hidup dalam kekudusanNya. Setiap orang bertanggung jawab dalam melewati setiap fase dalam proses yang Tuhan tentukan bagi hidupnya untuk menjadi alat kerajaanNya. Setiap proses yang dilewati akan terus membawa kita dalam kemurnian (kekudusan), sehingga kita menjadi siap dipakai untuk pekerjaan yang mulia. Karena itu, lewatilah setiap proses dengan respon yang terbaik, jangan mengeluh atau bersungut-sungut dan bahkan menyalahkan orang lain atau kondisi sekitar, tapi sadarlah, bahwa semuanya sedang mambawa kita terus masuk dalam kemurnian yang lebih lagi untuk manjadi senjata-senjata kebenaranNya.

Minggu – SETIA SAMAPAI AKHIR
2 Raja-raja 5:20-27

Kisah Gehazi yang kita baca adalah kisah bagaimana seseorang yang memulai dengan baik, tapi mengakhiri dengan tidak baik. Gehazi menjadi bujang Elisa, dan banyak hal yang dia saksikan pekerjaan Tuhan yang dikerjakan melaliu Elisa. Bagaimana mujizat terejadi bagi perempuan sunem sampai pada membangkitkan anak perempuan sunem tersebut yang mati. Gehazi setia mengikuti dan membatu Elisa, dia turut serta dalam pelayanan Elisa, bukan sebagai penonton. Tapi ada sesuatu dalam hidupnya yang belum disselesaikan atau dipulihkan, Gehazi tertarik kepada upah dan merasa layak untuk menerima upah tersebut, karena hatinya terpaut kepada hal-hal yang duniawi. Seberapa lama kita melayani Tuhan, tidak jaminan untuk kita akan setia sampai akhir. Karena itu, perlu sekali untuk kita memastikan tidak ada bagian dalam diri kita yang tidak diubahkan, kita mengijinkan setiap proses dalam hidup kita, supaya tidak ada bagian yang belum selesai. Tuhan memakai kisah Naaman untuk memproses hati Gehazi, tapi ketidaktaatannya kepada Elisa membawa dia jatuh kedalam pencobaan. Mari saudara, jangan berhenti di tengah jalan, tapi selesaikan sampai akhir, teruslah hidup dalam kebenaranNya yang membawa kita selalu dimurnikan dan dibersihkan menjadi kudus dan berkenan kepadaNya. Amin.

Penulis : Pdm. Yongki Sannadi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2019/06/17/hidup-kudus">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram