KEKUATAN BUDAYA

Renungan Harian , Terbit 29 Juli – 4 Agustus 2019

 

KEKUATAN BUDAYA

Ayat KUnci : Mazmur 1:1-2

 

Senin – Kebudayaan yang Luhur di Bumi (Kejadian 1:26-28)

Kata kebudayaan berasal dari kat dasar budaya. Kata Budaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki 4 arti yakni, pikiran, akal budi; adat istiadat; sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju) dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Arti dasarnya bersumber dari pikiran atau akal budi. Dengan kata lain kebudayaan dapat diartikan sebagai cara hidup (way of life), cara hidup yang terbentuk dari pola berpikir. POla berpikir terbentuk dari sekumpulan pengetahuan yang dikelola menjadi satu atau beberapa pengertian. Pengertian yang direalisasikan menjadi tindakan.

Sesungguhnya kebudayaan manusia sudah tercipta sejak manusia diciptakan oleh Allah (Kejadian 1). Kebudayaan yang tercipta berasal dari pola berpikir Allah melalui proses penciptaan sampai hari ke 6. Ada satu pesan penting di dalam peristiwa penciptaan bumi dan isinya yakni bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan yang sangat berharga diberikan mandate untuk mengelola dan berkuasa di bumi untuk mendupliasikan dan menyebarluaskan kehidupan Allah yakni konsep kebudayaan Allah di bumi. Semua orang diciptakan untuk tujuan memuliakan nama Tuhan di bumi. Oleh karenanya manusia harus merealisasikan prinsip-prinsip kebenaran ini menjadi tindakan-tindakan yang terpuji dan menjadi kebiasaan hidup di bumi.

Pahamilah bahwa sesungguhnya di balik kehidupan manusia di bumi saat ini yang sarat dengan penyimpangan kebudayaan luhur terdapat harapan untuk kembali ke kodrat kebudayaan manusia yakni membangun kebudayaan Kerajaan Allah.

 

Selasa – Kunci Mengubah Kebudayaan (Mazmur 1:1-5)

Secara umum, pengertian budaya adalah suatu cara hidup yang terdapat pada sekelompok manusia, yang berkembang dan diwariskan secara turun temurun. Kekristenan harus bisa mempengaruhi bahkan mengubah budaya masyarakat. Dari budaya dunia menjadi budaya Kerajaan Allah.

Untuk mengubah budaya dunia Gereja harus memiliki komitmen  untuk membuang Filsafat orang Fasik, perilaku dan sikap orang Fasik. Gereja harus menggantinya dengan Filsafat Firman Tuhan dengan mulai menyukai Firman Tuhan,  merenungkan Firman Tuhan, kemudian menjadikannya sebagai  gaya hidup yang dilakukan terus-menerus secara bersama sama.
Komitmen penuh untuk berubah akan menyebabkan terbangunnya kebudayaan baru yaitu budaya Kerajaan sorga yang akan mendatangkan keberhasilan utuh dan sejati.

Saudaraku mari kita lawan kebudayaan di dunia dengan kebudayaan kerajaan Allah.

 

Rabu – Satu Pola (Filipi 2:1-11)

Setiap suku bangsa di dunia tentu memiliki kebudayaan yang unik sehingga menyebabkan muncul ragam kebudayaan manusia. Jikalau dipelajari sumber terbentuknya satu kebudayaan adalah di pikiran (Cognitive). Pengetahuan demia pengetahuan akan kehidupan dihimpun dan dikelola menjadi konsep kehidupan yang kemudian dijalankan  secara bersama-sama sehingga dalam kurun waktu tertentu menjadi kebiasaan hidup. Itulah kebudayaan manusia. Dosa yang terbentuk di dunia telah mengkhamiri bahkan merobohkan benteng kesucian dan keluhuran tujuan penciptaan yang mana telah terjadi pergeseran tujuan penciptaan yakni dari menyembah dan memuliakan Sang Pencipta menjadi menyembah dan memuliakan Hasil Ciptaan Tuhan. Pergeseran dan perubahan tujuan hidup menyebabkan manusia kehilangan konsep kebudayaan Allah sehingga bermunculan banyak kebudayaan yang mencoba menandingi Tuhan dan titah, ketetapan dan rencananya.

Itu sebabnya Yesus telah mengajarkan kepada manusia bahwa kita harus menaruh pikiran dan perasaan seperti yang terdapat dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5) supaya manusia mengalami perubahan pikiran. Perubahan pikiran akan menuntun manusia untuk membentuk pola pikir Ilahi, pola rasa atau emosi yang benar, pola tindak yang terpuji dan akhirnya manusia dengan keinginan yang penuh hanya untuk memuliakan Tuhan akan membangun gaya hidup Ilahi di bumi. Ada beberap hal yang Tuhan ajarkan untuk memiliki kebudayaan hidup yang berdampak yakni :

  1. Kerelaan untuk Berubah. Yesus rela untuk menjadi manusia dengan tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah demi tugas penyelamatan manusia dari dosa.
  2. Kerendahan hati. Karakter ini adalah nilai sukses dan menjadi nilai kebudayaan Allah. Orang Kristen harus mengutamakan kepentingan orang lain daripada diri sendiri atau kelompok yang eksklusif melalui penerapan karakter kerendahan hati.
  3. Ketaatan . Kualitas ini menjadi sangat penting agar semua bagian hidup kita mencerminkan kebenaran Allah di bumi sehingga tidak memberikan ruang munculnya kebiasaan-kebiasaan buruk dan merugikan banyak orang. Ketidaktaatan akar pemberontakan dana menyebabkan terjadi kejahatan baru.
  4. Yesus datang ke dunia hanya untuk menggenapi perintah Bapa di Surga yakni untuk mati , bangkit dan naik ke surge supaya manusia dibukakan jalan ke surge yakni jalan kepada Bapa (Yoh 14:6).
  5. Penundukan diri kepada Nama Yesus. Semua bentu kebudayaan di bumi haruslah menjadi nama Yesus sebagai sumber otoritas sehingga semua bentuk kompromi dosa dihancurkan.

 

Mari miliki pola pikir, pola rasa dan pola tindak dari pikiran Kristus agar tercipta gaya hidup Rohani dalam rumah tangga, komunitas sekolah, komunitas bisnis/pekerjaan atau komunitas social kemasyarakatan dimana Anda berada.

 

Kamis – Falsafah Kebudayan Ilahi (Yohanes 1:1-5)

Falsafah adalah moto kehidupan yang mengandung nilai-nilai positif yang dijadikan sebagai tolak ukur untuk bertindak. Falsafah Negara Kesatuan RI adalah Pancasila. Pancasila mengandung tujuan dan nilai-nilai positif untuk membangun peradaban manusia yang terpuji dan membangun Indonesia menjadi Negara yang menjunjung tinggi kebenaran di dunia. Gereja sebagai perwujudan otoritas Tuhan di bumi memiliki falsafah yang bersumber dari firman Tuhan. Firman Tuhan adalah kehidupan karena firman Tuhan adalah Yesus Kristus sendiri (Yoh 1:1-5).

Pada masa kini di tengah kesulitan kehidupan dalam berbagai sisi kehidupan, manusia cenderung menjadi kurang giat berjuang untuk meraih yang benar dan terbaik, sehingga mentalitas instant yakni ‘semua ingin serba cepat’ membuka sisi rawan yakni menggunakan berbagai cara yang cenderung mengabaikan kebenaran demi mendapatkan dan meraih kebutuhan hidup yang diinginkan. Salah satu tindakannya yakni mengandalkan peran ahli magic yakni dukun atau para normal. Atau praktek-praktek bisnis kilat demia cepat menjadi kaya raya tapi sarat dengan cara-cara yang curang. Belum lagi di bidang pendidikan yang cenderung hanya menjadi formalitas demi pencapaian karir di masa depan dalam dunia kerja sehingga mengabaikan idealism panggilan Tuhan bagi setiap orang. Oleh karena itu, firman Tuhan harus menjadi pedoman berpikir dan bertindak dalam semua sisi kehidupan manusia, terutama gereja Tuhan di dunia.

Kembalilah ke konsep Rohani secara akurat wahai gereja Tuhan supaya keutuhan teladan di bumi bisa terjadi dalam kehidupan gereja Tuhan. Tidak ada yang lain selain firman Tuhan yang menjadi kebenaran absolut yang dijadikan falsafah kehidupan di semua sisi.

 

Jumat – Masyarakat Gereja yang Berbudaya (Kisah Para Rasul 2:41-47)

Saudara yang kekasih, mari kita kembali mempelajari gaya hidup gereja mula-mula atau yang saya sebut sebagai kebudayaan gereja mula-mula. Di tengah terjadinya krisis kehidupan yang bermoral, manusia kehilangan figur Allah dan tidak ada standar moral di kota Yerusalem, lahirnya satu komunitas yang dijadikan dengan hembusan kuasa Roh Kudus yang berpijak pada janji Tuhan (Kis 1:1-4,8). Segelintir orang yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus membentuk bola salju rohani yakni terbentuknya kuasa duplikasi kehidupan Ilahi di bumi untuk mengubah falsafah dunia dengan Injil Kerajaan Allah.

Kebudayaan Kerajaan Allah telah terbentuk di kota Yerusalem dan dapat menjadi model buat gereja Tuhan di setiap Negara. Berikut pilar-pilar penopang kebudayaan gereja mula-mula yang dibangun :

  1. Sistem kepercayaan (Belief system) yang bersumber dari Firman Tuhan.
  2. Selalu menerima pengajaran kebenaran Allah, sehingga tidak memberikan ruang pikiran kepada nasehat-nasehata orang fasik atau ahli agama yang hanya memiliki pengetahuan tapi tidak menjadi pelaku firman Tuhan.
  3. Selalu bersekutu di atas kuasa kematian dan kebangkitan Yesus dari antara orang mati (Sakramen Perjamuan Kudus).
  4. Keseimbangan ekonomi komunitas, melalui tindakan saling menolong secara materi dengan nilai rela berkorban sehingga tidak ada lagi yang berkekurangan diantara umat Tuhan.
  5. Bersosialisasi dan disenangi oleh semua orang. Gereja harus menjadi jawaban, bukan menjadi masalah dalam masyarakat.
  6. Berhasil memperluas pengaruh kebudayaan Kerajaan Allah, melalui penginjilan dan kesaksian hidup yang takut Akan Tuhan.

Ini saat yang tepat untuk berbudaya dan menggandakan kebudayaan Kerajaan Allah di lingkungan kehidupan terdekat kita sampai ke semua bangsa di dunia.

 

Sabtu – Jangan menjadi korban Budaya Dunia (Roma 12:2; Yakobus 4:7)

Saudara-saudara satu hal yang menjadi sangat penting untuk melestarikan kebudayan Kerajaan Allah adalah memiliki pertahanan diri terhadap serangan budaya asing yang miskin akan prinsip kebenaran. Perkuatlah pertahanan diri Anda dan komunitas Anda sekarang melalui tindakan-tindakan melakukan firman Tuhan secara akurat. Jangan menjadi korban Budaya dunia apalagi menyebarluaskannya.

Bertahanlah dan lawanlah iblis maka dia akan lari daripadamu.

 

Minggu – Bagaimana kita sebagai umat Tuhan meresponi perubahan ini? (Yunus 1:1-4)

Perubahan diri dimulai dari apa yang manusia ketahui tentang arti dan standar perubahan yang benar. Dan hal tersebut dimulai dalam tataran pikiran manusia. Apa yang ada dalam pikiran kita yakni pola pikir, akan menentukan respon diri kita terhadap perubahan yang terjadi. Perubahan bisa terjadi kapan pun selama manusia masih bernafas dan mau bertindak. Sebagai contoh, dalam Nats ayat di atas (Yunus 1:1-4), Yunus adalah seorang pilihan Tuhan yang telah ditetapkan menjadi Duta Kerajaan Allah di kota Niniwe. Persoalannya, Yunus harus pergi dan berjuang di Kota Niniwe agar semua penduduknya yang berbuat jahat dapat bertobat. Ini tujuan Tuhan yang sangat mulia dan sangat besar. Namun ketidakdewasaan Yunus yakni karena emosi diri yang lebih kuat dari cara berpikir yang benar dan dewasa, membuat Yunus untuk memilih melarikan diri dari panggilan Tuhan.

Untuk selalu mengalami pendewasaan gaya hidup atau kebudayaan kerajaan Allah setiap orang harus memiliki kelembutan hati dan kerendahan hati. Oleh karena itu marilah kita selalu mau dan konsisten untuk selalu semakin serupa dengan figure Yesus Kristus.

Sumber : Pdt.  Santoso Hutabarat, S.Si

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan code CAPTCHA

Facebook
Google+
https://sinodegkkd.org/2019/07/29/kekuatan-budaya">
Twitter
YouTube
Pinterest
LinkedIn
Instagram